Rabu, 15 Juni 2011

Alasan Indonesia Gagal 1

Orang mengatakan Indonesia dalah Zamrud yang tak akan habis keindahannya danselalu indah sampai kapanpun, seniman terkemukapun mengatakan negara ini bukan lautan, tapi kolam susu layaknya surga. Bahkan beberapa kitab perjalanan kuno menyebutkan Indonesia adalah keajaiban luar bisa, sebuah tongkat ditanampun jadi pohon, hingag yang paling menakjukan adalah Indonesia, betapa indah dan inilah sebongkah tanah dari Surga yang dilempar ke dunia.

Tap hari membuat Indonesai semakin luluh dan tenggelam dalam air matanya, selalu dan selalu air mata itu menetes. Akankah kita kembali berjaya seperti Sriwijaya, hingga Mojopahit, jika roda dunia memang berputar, kapan kita akan kembali pada masa-mas itu?

Perang politik yang merinbas pada perang saudara semakin gencar hingga kambali lahirnya gerakan-gerakan dari wilayah yang ingin membebaskan diri dari NKRI, bai karena keinginan sendiri maupun didalangi bangsa lain.

Dari sini segi politik sangat memegang pengaruh penting dalam kestabilan Indonesia. Sayangnya Politik yang menjadi salah satu ujung penting, malah yang paling goyah dan paling bobrok. Wakil-wakil raskyat yang seharusnya dapat kembali menyejahterakan rakyat malah hanya berfoya-foya dan bertindak yang seharusny tidak diperbuat, sungguh memalukan.

Marilah kita kembali menilik betapa Indonesia adalah negara luar biasa, negar kita dan dimanapun hendaklah kita selalu berkata “aku bangga menjadi orang Indonesia”. Negara kita, Indonesia, sekali lagi, adalah luar biasa.

Kekayaan alam yang melimpah, suhu laut yang hangat dan sangat memungkinkan berlimpahnya hasi laut, musim yang teratur dan suhu yang bersahabat. Kekayaan perut bumi yang luar biasa. Didukung dengan manusia-manusia Indonesia yang terkenal dengan kerukunan dan keramahannya, dengan senyum hangatnya saling menyapa dan tidak memperdulikan suku bangsa bahkan agama, semua rukun guyup dalam satu naungan Indonesia. Hutan-hutan yang menjadi rumah bagi jutaan species hewan berbagai bentuk dan langkan, gunung-gunung menjulang tinggi dan memastikan jumlah air yang mencukupi. Bahkan otak-otak manusia Indonesia secara kodrati adalah otak manusia terpintar sedunia, dalah kancah 10 besar disamping USA dan China. Sungguh luar biasa Indonesia.

Namun kenapa kita gagal. Gagal dengan segala kelebihan dan keluar biasaan kita. Dari beberapa buku yang saya baca dan dengan penelusuran pribadi saya, disini saya simpulkan kenapa kita gagal. Miris, sangat miris negara seperti Indonesia harus gagal dan terus-menerus berkubang dalam masalah pelik seperti sekarang.

Saling menuding – kucing dan ikan asin
Intulah yang selalu dinikmati masyarakat dari ulah wakil-wakilnya, di gedung pemerintahan yang agung sana, para wakil rakyat terus saja saling tuding menuding jika ada suatu masalah. Banyak sekali saya jumpai wakil-wakil rakyat yang terus saja berkelik jika diwawancarai wartawan, dengan dalih “itu bukan tanggung jawab kami/saya, tapi dia atau mereka”. Cukup dengan kata-kata itu saja sudah terlihat dengan jelas tudingan dan saling melemparkan masalah antara satu dengan yang lain, dan bak gayung bersambut, pihak yang ditudingpun kembali melayangkan tudingan yang lebih “seru” pada pihak sebelumnya atau bahkan pada pihak ketiga dan demikian seterusnya. Namun saya katakan “kucing dan ikan asin” adalah ulah-ulah yang seperti kucing blingsatan jika ketemu dengan ikan asin, demikian jugalah para wakil rakyat yang menjauhkan kepentingan rakyat yang seharusnya didahulukan, mereka sekali lagi tergiur dengan kepentingan dan keuntungan pribadi, tidak usah banyak komentar untuk hal ini, contoh yang paling hangat adalah kasuh alih fungsi hutan lindung, ujung-ujungnya ketehuan kepentingan pribadi yang diutamakan. Belum legi dengan banyaknya kasusu suap yang semakin mencoreng wakil-wakil rakyat. Sebenarnya ini bukan hanya terjadi pada wakil rakyat yang duduk dikursi empuk dan bermobil mewah, tapi juga hingga rakyat kalangan terbwah sekalipun. Kita masih saling menuding, kita belum bisa mengakui kesalahan dan melihat diri kita secara menyeluruh, yang ada di otak kita hanya kesalahan orang lain, dalam suatu kegagalan, hal pertama yang ktia ucapkan adalah “ini salah dia…” jarang sekali kita berpikir sejenak dan bernafas kemudian mengakui kesalahan kita. Saling menuding sama artinya dengan ketakutan kita pada diri sendiri, bagaimana kita melawan musuh jika dengan diri sendiri saja takut. Dan yang paling parah adalah kita tak mampu bercermin diri dan mengenal diri kita secara menyeluruh, kita lebih mudah melihat orang lain yang menderita atas tudingan kita.

Kritik, Kritik, somasi
Sadar atau tidak selama ini kita terbiasa memberi kritik pada orang lain, bahkan kritik pedas hingga berujung somasi. Apa yangdilakukan orang lain adalah salah dimata kita dan kita selalu beranggapan lebih baik dan bisa mengerjakan hal itu jauh lebih baik daripada dia, tapi pernahkan ktia mencoba mengerjakan apa yang dilakukan orang lain dan jelak dimata kita? Contoh sederhana, penjual membeli dawet, ia sangat marah karena dawet yang ia beli rasanya tidak manis seperti seleranya, si tukang dawet menjawab, “memang gulanya kurang manis karena ini tebu yang langsung saya peras”, dapat dipastikan, kita akan semakin marah-marah hingga dawet yang sudah kita habiskan tidak kita bayar dengan dalih tidak enak “kalo enggak enak kenapa dihabiskan…”. Bukankah akan lebih baik kalau kita duduk bersama dengan di tukang dawet, mebicarakan hal dengan lebih santai dan memberinya saran agar dawetnya lebih manis, mungkin dengan mengurangi air dan meperbanyak santat serta perasan tebu, pasti akan lebih enak. Boleh juga ditambah daun pandan agar lebih harus. Jarang sekali kita melakukan itu, dan yang lebih disayangkan, diantara kita malah sangat sedikit yang memilih melakukan hal tersebut. Hanya kritik, kritik dan kritik tanpa solusi. Disini saya mensejajarkan orang yang hanya mengkritik tapi tak memberi solusi, adalah seperti anjing yang menggonngong di malam hari dan menganggu orang yang tengah tidur nyenyak, pastilah semua orang tak mau tidur malamnya diganggu dengan suara berisik, demukian juga kita, pasti tidak mau kinerja kita hanya dikritik dan kritik dengan kata-kata pedas tanpa memberi saran dan pembelajaran. Hanyalah anjing yang menyalak. Kenapa wakil rakyat yang saya tuliskan disini? Karena merekalah yang sepantasnya memberi contoh terbaik untuk rakyat yang mereka wakili dalam hal ini. Karena rakyat yang memilih Anda, karena mereka percaya dengan Anda.
Melayangkan somasi, rupanya sudah menjadi gaya hidup bahkan hobi bagi beberapa orang. Kaum selebriti begitu berjibun dengan masalah ini-itu, salah satunya somasi, somasi yang mereka layangkan begitu nyata dan terekpos sedemikina rupa dimedia dan dinikmati hampir semua pasang mata. Apahak dengan somasi mereka puas ? sama artinya mereka puas dengan tercemarnya nama orang lain? Dan puaskan dengan saling mensomasi satu sama lain? Bukannya akan lebih baik duduk bersama, berjabat tangan didepan media dan menunjukkan kisah persahabatan?

Lupa, melupakan – marah
Ini adalah masalah budaya. Saat seperti ini, kita jauh melupakan budaya hingga kita lupa siapa diri kita, terlalu sihipnotis dengan dunia gtemerlap malam dan semua hal-hal yang bukan budaya kita namun kita begitu memuja-mujanya, Punk contohnya. Baru-baru saja tetangga Malaysia mengambil reog, tempe sudah diambil Inggris, Durian, ayam diambil Bangkok, jambu diambil Thailand dan batik Solo mulai dijiplak China, ukiran bali dilisensi USA, pulai Sipadan dan Ligitan menguap sudah dari NKRI. Apakah kita diam saja, tidak, dan tidak mungkin, nyatanya banyak suara-suara keras dan mengancam mengaharuskan budaya itu kembali. Pertanyaannya, kemana dan dimana kita saat mereka belum mengambil budaya itu? Kita melupakannya dan tak banyak kita yang menaruh budaya sendiri kedalam bak sampah, nah jiak sudah begini pada teriak-teriak. Jadi salah semata-mata salahkan mereka dan mengtuk mereka, sekali lagi sebelum menyalahkan mereka, apakah kita ini memang sudah dalam posisi benar. Ya, benar, budaya dan semua itu milik kita, tapi kenapa kita tidak merawatnya ?

Diposting di deroom pada 15 September 2008.

1 komentar:

  1. link sudah saya pasang sob cek di sini
    http://arishare.blogspot.com/2011/06/tuker-link.html

    BalasHapus