Selasa, 14 Juni 2011

Balai Penyelamatan Mpu Purwa

Balai Penyemalatan, demikianlah statusnya hingga saat ini dan masih dalam perjalanan menjadi Museum.

Jika Anda ingin berkunjung, silakan Anda ke daerah Sukarno-Hatta Kota Malang dan menuju komplek perumahan Griya Santa. Kemudian tanyalah pada warga sekitar Museum Mpu Purwa atau bekas SD Mojolangu . Jika naik kendaraan umum dari arah terminal Landungsari, naik Lyn CKL, turun TK Anak Soleh. Diperempatan dekat TK itu Anda silakan menyebrang ke arah selatan dan berjalan tak lebih dari 800 meter. Jika Anda dari terminal Arjosari atau Stasiun Kota Baru, usahakan naik Lyn yang ada tulisan “L”, banyak sekali. Intinya hanya Anda harus menemukan dan naik Lyn yang ada trayek ke Landungsari dan turun di Polsek Dinoyo kemudian oper naik Lyn CKL dan ikuti seperti petunjuk di atas. Begitu juga jika Anda dari terminal Gadang atau Stasiun Kota Lama. Sebenarnya di depan Polsek Dinoyo itulah saat ini saya tinggal he he he ..... ;)

Saat ini terdapat 27 koleksi di dalamnya yang terdiri dari Arca, prasasti dan fragment. Seluruh koleksi yang ada saat ini adalah hasil kumpulan dari daerah Malang kota, baik dari temuan warga, penggalian hingga yang berserakan.

Sumatri, selaku juru rawat, saat saya dan seorang rekan sekaligus kameraman. Sedikit menjelaskan tentang Balai Penyelamatan tersebut dan koleksi yang ada hingga saat ini. Meski secara formal ia adalah juru rawat, namun saya lebih nyaman jika menyebut beliau sebagai yang “mbau rekso” Balai Penyelamatan Mpu Purwa. Banyak hal yang ia tahu melebihi yang lain. Bahkan beliau juga tergabung dalam perkumpulan seniman dan budayawan Malang termasuk didalamnya Pak Dalang Sholeh dan Mas Dwi Cahyono yang merupakan pemegang lisensi event Malang Tempoe Doeloe.

Dari paparan Sumatri juga (pak Sumatri maksudnya he he he ). Balai tersebut dahulu memang bekas sekolah SD Mojolangu yang dialih fungsikan pada 2004. Sedangkan koleksi yang ada juga banyak kisah mengenainya. Banyak yang dahulu hanya berserakan dan kemudian dikumpulkan di Jalan Halmahera, sekarang jalan Muharto. Saat itu Sumatri bekerja sebagai bagian kebersihan sejak tahun 1980. Dari sanalah benda-benda purbakala mendapay perhatian dari Bossnya Sumatri yang kebetulan umat Hindu. Dengan kepedulian tersebut, benda-benda purbakala yang berserakan di seluruh wilayah Malang kota dikumpulkan dan dirawat. Saat itupun Sumatri bertindak sebagai juru rawat.

Pengalaman itulah yang kemudian semakin memupuk keterampilan Sumatri dalam merawat benda-benda cagar budaya. Karena tidak memungkinkan lagi diletakkan di Jalan Halmahera, maka keseluruhan benda-benda purba yang terkumpul kemudian dipindahkan ke Taman Rekreasi Sena Putra. Belakang Masjid A. Yani di Jl. Kahuripan. Namun karena suatu hal karena perawatan yang kurang layak dan tempat yang kuran memadai. Maka benda-benda tersebut tak tahu lagi akan dipindahkan kemana.

Dan disaat itulah muncul tokoh Dwi Cahyono yang akrab di sapa Mas Dwi Cahyono. Ia mempersilakan benda-benda tersebut diletakkan di tempatnya berbisnis. Yaitu Rumah Makan Cahyaningrat di Jl. Sukarno-Hatta. Dengan demikian seluruh benda-benda tersebut kembali dipindahkan ke Rumah Makan tersebut. Hingga Balai Penyelamatan Mpu Purwa berdiri. Baru seluruh benda-benda tersebut dipindahkan ke Balai. Sedangkan Rumah Makan Cahyaningrat, sekarang jadi Papa Rons Pizza, dan masih menyisakan unsur seni didalamnya. Terbukti dengan masih mempertahankan ornamen candi di dalam rumah makan tersebut dan dipertahankan hingga saat ini.

Banyak juga koleksi yang di ambil dari beberapa instansi yang dulunya juga ikut merawat benda-benda purba tersebut. Antara lain Hotel Tugu, dari sana tidak sedikit koleksi yang kemudian dipindahkan ke Balai Mpu Purwa. Satu Arca Budah yang berukuran sangat besar saat ini masih bertandang di Hotel Trio Indah Jl. J.A Suprapto. Tepatnya di taman hotel tersebut, dan pihak Balai Mpu Purwa berenana akan memindahkan Arca tersebut ke Balai setelah seluruh prosedur dilaksanakan dengan baik.

Turut melengkapi koleksi. Salah satunya adalah Prasasti Dinoyo 1 dan dua. Yang paling menarik saya waktu berkunjung adalan prasasti Muncang. Karena tepat ketika pertama saya memasuki ruang pajang koleksi. Langsung disambut oleh prasasti tersebut. Langsung saya mendekat dan meraba betapa rapi dan teratur tulisan yang menghiasinya. Saat itulah pikiran saya mulai bertanya-tanya, betapa teliti dan telaten orang kala itu dalam mengukir tulisan sebanyak ini dan serapi ini. Apalagi tulisan dengan bahasa Sanksekerta itu tidak mudah. Butuh keterampilan lebih tentunya.

Prasasti tersebut memang pernah diterjemahkan oleh orang bekerbangsaan Belanda bernama Brandes dari 38 baris didalamnya di bagian belakang. Jadi, masih banyak baris-baris yang belum berhasil diterjemahkan, baik di bagian depan, samping kiri dan kanan serta bagian bawah.

Sekali lagi jika Anda ingin berkunjung. Anda tidak perlu ketakutan kehabisan waktu. Karena Balai ini buka mulai pukul 8 pagi, tapi usahakan Anda sudah mengakhiri wisata Anda sebelum jam 4 sore. Bahkan, Sumatri dengan senang hati akan membuka pintu bagi Anda pengunjung meski pada hari libur. Untuk tiket, uhm..gimana yach, belum tau sich pastinya berapa, karena pas aku kesana gratis sichh he he he he ;)

Foto koleksi Dedi. Diposting ke deroom pada 14 Agustus 2008.


0 comments:

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html www.lowongankerjababysitter.com www.lowongankerjapembanturumahtangga.com www.lowonganperawatlansia.com www.lowonganperawatlansia.com www.yayasanperawatlansia.com www.penyalurpembanturumahtanggaku.com www.bajubatikmodernku.com www.bestdaytradingstrategyy.com www.paketpernikahanmurahjakarta.com www.paketweddingorganizerjakarta.com www.undanganpernikahanunikmurah.com

Posting Komentar