Selasa, 14 Juni 2011

Budaya Dalam Pendidikan

Hingga detik ini pemerintah masih dan selalu saja mengeggembar-gemborkan programnya mengenai pendidikan wajib 12 tahun. Sehingga setiap warga Indonesia diwajibakan berpendidikan hingga SMA atau sederajat.

Namun yang perlu dipertanyakan, apakah pemerintah sendiri paham dan sadar dengan programnya tersebut ?

Memang benar dan sangat dibenarkan jika pemerintah sangat berambisi terhadap generasi muda agar berpotensi dan memilik wawasan luas. Sehingga kelak mereka dapat membawa bangsanya ke arah yang lebih baik dan bahkan jauh lebih baik dari masa sekarang. Juga dengan pendidikan pastilah akan banyak lahir ilmuan-ilmuan profesional di bidangnya masing-masing dan kedepan semakin membuat bangsa dan anak-anak bangsa semakin cerdas. Kiranya seperti itulah planing yang direncanakan sedemikian kuat dan berjangka panjang. Namun sedikit banyak planing tersebut ada busuknya juga, salah satunya. Apabila pendidikan 12 tahun memang benar-benar terwujud merata secara nasional, maka merupakan satu kesempatan emas bagi ‘tikus-tikus busuk dan berdasi’ untuk mengeruk untung sebanyak mungkin dari dunia pendidikan. Dan yang tak kalah dahsyatnya adalah manipulasi pendidikan. Bagaimana pendidikan bisa terjalin dan berjalan dengan ‘suci’ jika pemerintahnya saja masih gelap mata karena politik manupulasi yang menghasilkan uang ?

Sejenak kita tinggalkan masalah pelik dalam pendidikan maupun moral penguasa yang ‘bejat’. Mari kita sedikit mengintip lubang yang sempit dan tersimpan jauh dalam tanah namun masih suci.

Dunia pendidikan kita memang seakan terseok dalam perjalalan menuju surga, namun tak mampu juga ia keneraka. Orang-orang pintar yang berhasil dididik justru di curi negara lain. Banyak sudah pengalaman anak-anak Indonesia yang luar biasa justru menjadi anak emas di negara lain. Jangan semata-mata salahkan mereka yang meninggalkan tanah air, tapi langkan mereka untuk hengkang memang bisa di acungi jempol, salah satunya karena mereka memang sangat tak dihargai di tanah airnya, dan apa gunanya jika hidup tak dihargai, sementara di negara lain mereka disambut bak seorang raja.

Moral memang terbentuk bukan hanya dari pemahaman terhdap agama. Peran masyarakat sangat penting dan tak terealkkan lagi. Namun jauh disamping itu semua adalah pada tingkat pemahaman terhdap budaya. Jika agam mengajarkan hubungan antara manusia dan manusia, alam dan Tuhannya, dalam budaya tercakup semua itu dalam artian yang lebih terfokus sesuai dengan ‘roh’ hidup manusia disuatu tempat ia hidup.

Contohnya budaya Mataraman yang begitu dikenal dengan tata krama dan unnggah-ungguhnya. Sangat sesuai dengan masyarakat Mataraman yang memang dari sononya terlahir sebagai orang yang kalem dan lemah lembut. Dan disini agam berfungsi sebagai pengokoh untuk hal yang lebih baik.
Menanggapi hal ini, beberapa waktu lalu saya berkunjung ke kediaman Ki Dalang Sholeh, budayawan asli Malang. Saat ini beliu bersama istrinya Elizabeth berkediaman di Tumpang Malang, sekitar 1 jam perjalanan dari pusat kota Malang. Di rumah sekaligus padepokannya, Padepokan Seni Mangun Dharmo. Ia mendidik anak didiknya dan terfokus pada budaya.

Di konfirmasi tentang keterlibatan budaya dalam pendidikan, Sholeh menjelaskan, sebenarnya budaya tidak diajarkan di sekolah formal, dan ia sendiripun mengakui ia budaya tidak ia dapat dari sekolah. Tapi lebih dari pergaulan dan kecintaanya pada budayalah yang melahirkan ia hingga seperti sekarang ini.

Ia sangat menyesalkan kenapa budaya tidak dijadikan sebagai mata pelajaran dan kuliah. Padahal budaya sangat penting perannya dalam membentuk watak dan karakter pemuda. Jika hal ini berlangsung terus dan pihak akademisi tetap tak pedulu dengan budaya, sangat dimungkinkan pamuda bangsa ini nantinya tidak lagi mengenal siapa bangsanya bahkan tak mengenal dirinya sendiri.

Ia juga sempet menyinggung masalah pelajaran budaya yang dahulu terangkum dalam Kertakes (Kesenian dan Kerajinan Tangan), yang hanya difungsikan sebagai muatan lokal, bukan mata pelajaran utama. Dengan semikian sama saja artinya ilmu tersebut hanya titipan, apakah pantas budaya hanya sebagai titipan ?

Dengan bersungguh-sungguh ia juga menyempaikan harapannya pada semua pihak untuk saling bekerjasama demi kebaikan bersama. Baik kalangan seniman, budayawan agar semakin kompak dan tidak saling serobot, juga kalangan kademisi untuk melihat jauh kedepan tentang pentingnya peranan budaya, serta pers untuk membantu dalam penyiaran tentang budaya tersebut. Salah satu caranya, ia mengungkapkan, adalah dengan kembali merevitalisasi budaya.

Sebenarnya, tahun 2001 lalu tepatnya bulan Januari. Pemerintah sudah menggulingkan otonomi daerah untuk daerah agar mengelola budayanya masing-masing secara mandiri. Jika di telaah lebih menjauh, instruksi dari pemerintah pusat tersebut adalah bentuk kepercayaan pemerintah pusat pada kemampuan yang dimilik setiap daerah untuk menjaga dan mengembangkan budayanya masing-masing. Ini berarti pemerintah pusat memadang setiap daerah memang memiliki kemampuan yang optimal untuk hal tersebut. Namun justru kenyataan tidak seperti harapan. Semenjak digulingkan ‘kepercayaan’ tersebut, kebudayaan di daerah memang berkembang pesat dan cepat. Namun sangat disayangan, hanya budaya ‘hura-hura’ yang semakin melaju capat. Akibatnya, inti budaya yang seharusnya dikambangkan, justru hanyut terlupakan dan tertutupi oleh budaya baru yaitu hura-hura.

Budaya di negara kita dan semua bangsa lain, selalu erat kaitannya dengan kesenian. Budaya melahirkan seni dan seni juga dapat melahirkan budaya. Hanya bedanya, jika di negara-negara barat, kesenian dipandang sebagai ilmu pengetahuan, ahli-ahli seni disanapun yang biasa kita sebut seniman, sangat dihormati, dihargai, bahkan dengan seni bisa menjadi profesionalisma yang nantinya dapat menopang kehiduppanny di masa depan. Namun di bangsa kita, kesenian masih dipandang sebagai pelipur lara dan hilang begitu saja setelah pementasan usai. Itulah salah satu sebabnya banyak seniman jalanan di negara kita tercinta ini.

Sedikit mengingat tentang sejarah, dahulu Ko Hadjar Dewantoro seorang pahlawan pendidikan. Selalu mengajarkan kesenian dalam pembelajrannya, karena beliau sadar dari kesenian dan budaya itulah yang saling bersinergi untuk membentuk watak anak Indonesia menjadi benar-banr orang Indonesia. Beliau juga mewajibkan setiap anak didik hafal dan mengerti dengan lagu daerahnya masing-masing. Yang tal kalah hebatnya, beliau selalu menerapkan hidup menghormati siapapun dan dimanapun barada selalu bisa menempatkan diri, itulah yang kemudain di kenal dengan ‘dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung’.

Dalam kenjungan ke padepokan Ki Sholeh, sempat juga beliau banyak ngobrol dan bercerita tentang Malang. Malang yang benar-benar Malang, mulai dari zaman kerajaan berikut budayanya masing-masing hingga Malang masa kini.

Dari semangatnya, terlihat sekali beliau memang sangat cinta dengan Malang. Namun ia sangat menyesalkan, kenapa budaya Malang tidak menjadi tuan rumah di Malang sendiri. Kenapa justru budaya lain yang banyak ditampilkan di Malang, padahal itu bukan asli budaya Malang.
BUDAYA DALAM PENDIDIKAN

Hingga detik ini pemerintah masih dan selalu saja mengeggembar-gemborkan programnya mengenai pendidikan wajib 12 tahun. Sehingga setiap warga Indonesia diwajibakan berpendidikan hingga SMA atau sederajat.

Namun yang perlu dipertanyakan, apakah pemerintah sendiri paham dan sadar dengan programnya tersebut ?

Memang benar dan sangat dibenarkan jika pemerintah sangat berambisi terhadap generasi muda agar berpotensi dan memilik wawasan luas. Sehingga kelak mereka dapat membawa bangsanya ke arah yang lebih baik dan bahkan jauh lebih baik dari masa sekarang. Juga dengan pendidikan pastilah akan banyak lahir ilmuan-ilmuan profesional di bidangnya masing-masing dan kedepan semakin membuat bangsa dan anak-anak bangsa semakin cerdas. Kiranya seperti itulah planing yang direncanakan sedemikian kuat dan berjangka panjang. Namun sedikit banyak planing tersebut ada busuknya juga, salah satunya. Apabila pendidikan 12 tahun memang benar-benar terwujud merata secara nasional, maka merupakan satu kesempatan emas bagi ‘tikus-tikus busuk dan berdasi’ untuk mengeruk untung sebanyak mungkin dari dunia pendidikan. Dan yang tak kalah dahsyatnya adalah manipulasi pendidikan. Bagaimana pendidikan bisa terjalin dan berjalan dengan ‘suci’ jika pemerintahnya saja masih gelap mata karena politik manupulasi yang menghasilkan uang ?

Sejenak kita tinggalkan masalah pelik dalam pendidikan maupun moral penguasa yang ‘bejat’. Mari kita sedikit mengintip lubang yang sempit dan tersimpan jauh dalam tanah namun masih suci.

Dunia pendidikan kita memang seakan terseok dalam perjalalan menuju surga, namun tak mampu juga ia keneraka. Orang-orang pintar yang berhasil dididik justru di curi negara lain. Banyak sudah pengalaman anak-anak Indonesia yang luar biasa justru menjadi anak emas di negara lain. Jangan semata-mata salahkan mereka yang meninggalkan tanah air, tapi langkan mereka untuk hengkang memang bisa di acungi jempol, salah satunya karena mereka memang sangat tak dihargai di tanah airnya, dan apa gunanya jika hidup tak dihargai, sementara di negara lain mereka disambut bak seorang raja.

Moral memang terbentuk bukan hanya dari pemahaman terhdap agama. Peran masyarakat sangat penting dan tak terealkkan lagi. Namun jauh disamping itu semua adalah pada tingkat pemahaman terhdap budaya. Jika agam mengajarkan hubungan antara manusia dan manusia, alam dan Tuhannya, dalam budaya tercakup semua itu dalam artian yang lebih terfokus sesuai dengan ‘roh’ hidup manusia disuatu tempat ia hidup.

Contohnya budaya Mataraman yang begitu dikenal dengan tata krama dan unnggah-ungguhnya. Sangat sesuai dengan masyarakat Mataraman yang memang dari sononya terlahir sebagai orang yang kalem dan lemah lembut. Dan disini agam berfungsi sebagai pengokoh untuk hal yang lebih baik.
Menanggapi hal ini, beberapa waktu lalu saya berkunjung ke kediaman Ki Dalang Sholeh, budayawan asli Malang. Saat ini beliu bersama istrinya Elizabeth berkediaman di Tumpang Malang, sekitar 1 jam perjalanan dari pusat kota Malang. Di rumah sekaligus padepokannya, Padepokan Seni Mangun Dharmo. Ia mendidik anak didiknya dan terfokus pada budaya.

Di konfirmasi tentang keterlibatan budaya dalam pendidikan, Sholeh menjelaskan, sebenarnya budaya tidak diajarkan di sekolah formal, dan ia sendiripun mengakui ia budaya tidak ia dapat dari sekolah. Tapi lebih dari pergaulan dan kecintaanya pada budayalah yang melahirkan ia hingga seperti sekarang ini.

Ia sangat menyesalkan kenapa budaya tidak dijadikan sebagai mata pelajaran dan kuliah. Padahal budaya sangat penting perannya dalam membentuk watak dan karakter pemuda. Jika hal ini berlangsung terus dan pihak akademisi tetap tak pedulu dengan budaya, sangat dimungkinkan pamuda bangsa ini nantinya tidak lagi mengenal siapa bangsanya bahkan tak mengenal dirinya sendiri.

Ia juga sempet menyinggung masalah pelajaran budaya yang dahulu terangkum dalam Kertakes (Kesenian dan Kerajinan Tangan), yang hanya difungsikan sebagai muatan lokal, bukan mata pelajaran utama. Dengan semikian sama saja artinya ilmu tersebut hanya titipan, apakah pantas budaya hanya sebagai titipan ?

Dengan bersungguh-sungguh ia juga menyempaikan harapannya pada semua pihak untuk saling bekerjasama demi kebaikan bersama. Baik kalangan seniman, budayawan agar semakin kompak dan tidak saling serobot, juga kalangan kademisi untuk melihat jauh kedepan tentang pentingnya peranan budaya, serta pers untuk membantu dalam penyiaran tentang budaya tersebut. Salah satu caranya, ia mengungkapkan, adalah dengan kembali merevitalisasi budaya.

Sebenarnya, tahun 2001 lalu tepatnya bulan Januari. Pemerintah sudah menggulingkan otonomi daerah untuk daerah agar mengelola budayanya masing-masing secara mandiri. Jika di telaah lebih menjauh, instruksi dari pemerintah pusat tersebut adalah bentuk kepercayaan pemerintah pusat pada kemampuan yang dimilik setiap daerah untuk menjaga dan mengembangkan budayanya masing-masing. Ini berarti pemerintah pusat memadang setiap daerah memang memiliki kemampuan yang optimal untuk hal tersebut. Namun justru kenyataan tidak seperti harapan. Semenjak digulingkan ‘kepercayaan’ tersebut, kebudayaan di daerah memang berkembang pesat dan cepat. Namun sangat disayangan, hanya budaya ‘hura-hura’ yang semakin melaju capat. Akibatnya, inti budaya yang seharusnya dikambangkan, justru hanyut terlupakan dan tertutupi oleh budaya baru yaitu hura-hura.

Budaya di negara kita dan semua bangsa lain, selalu erat kaitannya dengan kesenian. Budaya melahirkan seni dan seni juga dapat melahirkan budaya. Hanya bedanya, jika di negara-negara barat, kesenian dipandang sebagai ilmu pengetahuan, ahli-ahli seni disanapun yang biasa kita sebut seniman, sangat dihormati, dihargai, bahkan dengan seni bisa menjadi profesionalisma yang nantinya dapat menopang kehiduppanny di masa depan. Namun di bangsa kita, kesenian masih dipandang sebagai pelipur lara dan hilang begitu saja setelah pementasan usai. Itulah salah satu sebabnya banyak seniman jalanan di negara kita tercinta ini.

Sedikit mengingat tentang sejarah, dahulu Ko Hadjar Dewantoro seorang pahlawan pendidikan. Selalu mengajarkan kesenian dalam pembelajrannya, karena beliau sadar dari kesenian dan budaya itulah yang saling bersinergi untuk membentuk watak anak Indonesia menjadi benar-banr orang Indonesia. Beliau juga mewajibkan setiap anak didik hafal dan mengerti dengan lagu daerahnya masing-masing. Yang tal kalah hebatnya, beliau selalu menerapkan hidup menghormati siapapun dan dimanapun barada selalu bisa menempatkan diri, itulah yang kemudain di kenal dengan ‘dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung’.

Dalam kenjungan ke padepokan Ki Sholeh, sempat juga beliau banyak ngobrol dan bercerita tentang Malang. Malang yang benar-benar Malang, mulai dari zaman kerajaan berikut budayanya masing-masing hingga Malang masa kini.

Dari semangatnya, terlihat sekali beliau memang sangat cinta dengan Malang. Namun ia sangat menyesalkan, kenapa budaya Malang tidak menjadi tuan rumah di Malang sendiri. Kenapa justru budaya lain yang banyak ditampilkan di Malang, padahal itu bukan asli budaya Malang. 

Foto koleksi Dedy. Diposting di deroom pada 14 Agustus 2008

0 komentar:

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html www.lowongankerjababysitter.com www.lowongankerjapembanturumahtangga.com www.lowonganperawatlansia.com www.lowonganperawatlansia.com www.yayasanperawatlansia.com www.penyalurpembanturumahtanggaku.com www.bajubatikmodernku.com www.bestdaytradingstrategyy.com www.paketpernikahanmurahjakarta.com www.paketweddingorganizerjakarta.com www.undanganpernikahanunikmurah.com

Posting Komentar