Jumat, 17 Juni 2011

Catatan Kaki 4 “Memaknai Hidup Lebih Mendalam, Betapa Banyak Keberuntungan Ini”

Redup. Tak ada panas. Sementara cucian dari tiga hari yang lalu belum juga kering dan hujan berhasil membuat semua pakaian belum kering itu berbau apek dan gak karuan bentuknya. Ditambah lagi ulah para cecunguk kecil yang rame minta ampun, lari-lari kesana kemari teriak-teriak gak karuan. Rasanya semua ini emang sangat mendukung untuk aku marah dan mengumpat sekeras-kerasnya.

Tiba siang, matahari belum juga muncul. Kembali mendung dengan wajah redupnya yang sangat tak mengenakan dipandang mata kembali tersenyum sinis seakan merayakan kemenangannya atas diriku. Gerimispun datang tanpa aku mengundangnya.

Tak mau sekali lagi aku mengalah dengan kesombongan hujan. Akupun melangkah memacu gas menuju Stasiun Kota Lama untuk survei lokasi atau sekedar mengambil gambar kereta yang lewat dan pemandangan kuno disana. Ditemani seorang teman akupun berangkat. Dan kali ini aku patut tersenyum karena hujan tak sedikitpun menyentuh daerah Sukun hingga Gadang.

Bukan dari Stasiun Kota Lama yang memberi kesan mendalam. Tapi adalah perjalanan pulang kembali ke Dinoyo. Gak tau kenapa tiba-tiba otak ini selalu dijejali dengan segala promosi tentang pisang. Berjibum berbagai informasi tentang kenikmatan buah pisang, betapa enaknya kalau dimakan saat cuaca dingin seperti ini. Ah luar biasa enaknya juz pisang. Dan terlalu banyak otak ini semakin mepromosikan buah pisang hingga perutpun memberi dukungan suara untuk aku harus membeli buah pisang saat itu juga.

Tepat depan pasar Sukun akupun sedikit mengurangi kecepatan. Tak ada yang jualan pisang, kebanyakan duren dan rambutan, karena ini memang musimnya. Namun tak jauh kearah barat dari pasar Sukun. Aku temui beberapa buah pisang bentanda-sisir jumlahnya menggantung di pagar besih. Hanya ditutupi dengan lembar-lembar plastik lusuh. Beberapa diantaranya masih berdiam dalam keranjang yang tak lebih bagus dari keranjang ditempat sampah rumah.

Aku berhenti dan menanyakan harga pisang itu. Gak banyak, hanya sesisir saja, dan pisang hujau, aku paling suka. Tapi si penjual tak menjawab. Dengan langkah gontainya dia bangkit dari tempat duduknya, yang bahkan tak beralas. Kaki-kaki tuanya hany beralas sandal jepit yang bagiku hanya pantas menghuni tempat sampah dan harus didaur ulang. Sementara hanya celana panjang hijau kumal yang menutupu auratnya. Disertai dengan jaket tebal, lusuh, kumal, tambalan disana-sini. Dan aksen kopyah jadul dengan warna yang tak lagi sinergi, sangat memberi nilai tambah bahwa sudah beberapa hari dia tak pulang kerumah.

Ia ambil secarik tali rafia, dia rapikan dan ditalinya dua sisirg pisang hijau yang aku tunjuk dan sempat kutanyakan berapa harganya. Dia masih diam. Hanya dengan sopan sedikit memegang tanganku untuk membawa dua sisir pisang hijau yang ia siapkan.
“Gangsal ewu mawon mas (lima ribu saja mas)” katanya lirih dengan suara rapuhnya
Aku lihat matanya tak lagi bersinar. Tatapannya seakan tak ada harapan. Aku demikian bertanya, kenapa diusianya yang sedemikian senja dia masih berkerja, dipinggir jalan, menjajakan pisang, panas, dingin, tanpa atap dan alas. Diusia itu harusnya dia hanya dirumah menikmati masa tua bersama anak dan cucu.

Suatu makna kehidupan yang bagiku sangat menyentuh. Walau dia hanya berdagang pisang, yang tak terlalu dibutuhkan orang dan bahkan hanya satu sisir laku dalam sehari. Tapi toh dia masih beramal, singkat saja contohnya, pak tua ini memberikan dua sisir pisangnya padaku, yang sementara dipasar harga sesisir saja mencapai lebih dari tujuh ribu, dengan jenis dan kualitas yang sama. Benar-benar luar biasa, hanya itu yang bisa aku katakan dalam hati.

Kasihan, salut, jadi satu. Satu sisi, ini bukan saatnya untuk pak tua itu harus dipnggir jalan menafkahi keluarga, tapi satu sisi, dalam keadaannya yang terjepit itupun, dia beramal. Sungguh paradoks nyata dengan para koruptor bejat yang ada didalam mobil-mobil mewah itu

Belum beranjak aku dari tempat itu, memposisikan kendaraan masuk jalan raya. Berhenti sepasang pasangan muda, rupanya siperempuan tengah hamil. Dia juga membeli pisang rupanya. Dalam hari aku berdoa, semoga anak yang dikandung kelak jadi manusia bermanfaat, dan satu lagi aku berdoa, semoga pisang dagangan pak tua ini laris. Dan iapun pulang kerumah dengan hati bahagia membawa banyak uang. Dan terus aku berdoa, semoga semua amal-amal pak tua ini, terbalas dengan kebaikan berlipat-lipat untuknya. Semoga.

Seorang pak tua ditepi jalan, hampir mirip dengan pengemis, tapi dia bukan pengemis. Sederhana hingga terlalu sederhana dengan pakaian macam itu. Tenaga tuanya, suara rapuhnya dan semangatnya, serta kekayaan hatinya. Memberiku pelajaran akan makna sebuah kehidupan. Seakan dia mencercaku dan menghinaku untuk selalu bersyukur. Dari wajah tuanya yang tenang dan tanpa beban itu, seakan mencambukku untuk selalu bersyukur. Besyukur, dan bersyukur.

di posting di deroom pada 29 Desember 2009

0 komentar:

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html www.lowongankerjababysitter.com www.lowongankerjapembanturumahtangga.com www.lowonganperawatlansia.com www.lowonganperawatlansia.com www.yayasanperawatlansia.com www.penyalurpembanturumahtanggaku.com www.bajubatikmodernku.com www.bestdaytradingstrategyy.com www.paketpernikahanmurahjakarta.com www.paketweddingorganizerjakarta.com www.undanganpernikahanunikmurah.com

Posting Komentar