Sabtu, 18 Juni 2011

Fenomena Episode 2 : Sultan Jogjakarta

Keberadaan Sultan Jogjakarta Hadio Wangun sudah bukan barang asing bagi orang Indonesia. Banyak sejarah mencatat tentang Raja Jogjakarta Hadiningrat ini. Salah satunya adalah peristiwa serangan umum 1 Maret, bersama dengan Letkol Soeharto, Sultan Jogjakarta yang bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono, memberikan dukungan dan andil besar dalam perang mempertahankan RI dari serangan penjajah yang tek rela RI merdeka.

Tidak berhenti sampai disitu. Generasi IX juga berperan dalam urusan tata Negara RI dengan menduduki jabatan wakil Presiden pada masa Orde Baru, otomatis mendampingi Soeharto yang berkuasa hingga 32 tahun kemudian tumbang ditahun 1998. Dan saat inipun di generasi X, sultan Jogjakarta siap bertarung dalam pemilu 2009 sebagai calon presiden.

Dalam beberapa babak, memang Sultan X ini sempat banyak mendapat sorotan media massa. Didalam masa-masa ketidak menentuan karena Jogjakarta krisis kepemimpinan mengingat anak keturunan Sultan ini adalah perempuan, maka disepakati lahirnya undang-undang tentang pemilihan gubernur di Jogjakarta. Sri Sultan Hamengku Buwono X oleh beberapa partai siap dicalonkan sebagai gubernur sekaligus sebagai calon terkuat, tapi entah kenapa justru Sulta bermanuver politik mendeklarasikan diri sebagai calon Presiden. Hal ini tentunya sangat membingungkan partai pengusung nama Sultan sebagai Gubernur, mau kemana ini Sultan, Gubernur atau Presiden ?. Tapi yang jelas keputusan Sultan untuk tampil di muka orang Indonesia sebagai calon Presiden mendapat sambutan yang gempita dari masyarakat Jogjakarta. Terbukti mereka berbondon-bondong melangkah bersama ke alun-alun keraton menyaksikan Pisowanan Agung, disalanah mereka melihat Rajanya secara langsung sekaligus menjadi saksi Raja yang sangat mereka hormati itu maju sebagai calon Presiden. Seruan-seruanpun mulai terdengar riuh dengan slogan ‘Sultan untuk Indonesia’.

Jauh lepas dari iklim politik Sultan. Tetap Sultan adalah seorang yang mumpuni dan memiliki pengaruh luar biasa di Jogjakarta, tanah yang ia pimpim turun termurun. Lihatlah gejolak pada 1998, dimana hampir seluruh Indonesia merah terbakar amarah, demo, kekacauan, penjarahan, kekerasan dimana-mana dan ribuan mahasiswa di Jakarta menuntut Soeharto turun dari tahta Presiden. Tapi Jogjakarta tetap kalem dan bersahaja dengan kehidupan sehari-hari. Seakan mereka sangat tak terpengaruh dengan keadaan di luar. Usut punya usut memang Sultan memberikan intruksi pada rakyatnya untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh dengan provokator yang sangat bisa memperkeruh keadaan. Itulah, rakyat Jogja demikian tunduk dan ‘manut’ pada titah Sultan. Juga pada situasi gempa 2006. Andai gempa terjadi ditempat lain, bisa dipastikan rakyat utamanya korban bersorak memaki-maki pemerintah karena ketidak tanggapan dalam menangi korban. Tapi kedahsyatan gempa yang meluluh lantakan Jogja termasuk juga Dalem Keraton, tidak serta merta menyulut amarah warga Jogja. Dengan sigap juga Sultan menjenguk rakyatnya dipengungsian, secara psikologis inilah yang membuat rakyat tenang, disaat mereka merintih kesakitan, Sultan pujannya menjenguk, sedikit banyak berkuranglah rasa sakit yang diderita. Ini tingkat penyembuhan pertama bagi trauma rakyat, dan sesudahnya Sultan banyak melakukan hal-hal yang strategis yang rasanya sulit dilakukan di tempat lain, ini bisa terjadi di Jogja karena rakyat tak banyak ungkit pada pemerintahan, rakyat begitu percaya pada Rajanya dan Sultan memang memberi pengaruh besar pada rakyatnya.

Dari tahun ke tahun, masa ke masa. Pamor Sultan Jogja rupanya tak pernah pudar dan hilang. Sejak generasi pertama hingga sekarang generasi X. Pamornya tetap bersinar dimata rakyat, termasuk keraton tempat tinggal Sultan. Bahkan apapaun yang keluar dari keraton dianggap berkhasiat dan memiliki kekuatan, apapun itu.

Sultan bukan monopoli milik rakyat Jogja. Tapi juga kancah politik nasional. Buktinya, setiap mendekati masa pemilu tepatnya dimasa kampanye. Hampir seluruh calon presiden menyempatkan diri mengunjungi Sultan. Dalihnya tentu saja bersilaturahmi dengan pemimpin-pemimpin adat di Nusantara. Tapi tetap saja dalam benak mereka adalah untuk meraih simpati Sultan, mendapat dukungan Sultan berarti mendapat dukungan serupa dari masyarakat Jogja. Memang masyarakat Jogja tidak terlalu banyak jumlahnya, tapi pengaruhnyapun tak kalah dengan Sultannya, lihatlah mereka, orang Jogja, beranak pinak dan menyebar ke seantero Nusantara, hebatnya merekapun tetap setia pada Sultan.

Tapi keadaan sangat berbalik dan bisa dikatakan menyedihkan. Sultan yang selalu bercahaya dari masa ke masa diambang kehancuran kini,. Bahkan Sultan X pun menyatakan dirinya sebagai Sultan yang terakhir sebagai pemimpin (Raja) Jogja. Bisa karena krisi kepemimpinan, atau mungkin juga sudah digariskan oleh moyang terdahulunya dan rahasia itu hanya ada dikeraton. Inilah salah satu latar belakang lahirnya undang-undang tentang pemilihan Gubernur di Jogjakarta. Jikalaupun Jogjakarta tak lagi dipimpin oleh Sultan sebagai Raja, tidak menutup kemungkinan budaya Jogja berubah mengikuti alur demokrasi yang kadang tak menentu dan sedikit banyak mengandung kebusukan.

Sultan bisa digantikan Gubernur, tapi Gubernur siapapun yang terpilih atas demokrasi tidak akan bisa menggantikan pamor sang Sultan yang mengadopsi gars keturunan. Sekalipun hilang kisahnya dari peradaban, peninggalannya tetap memancarkan wibawa seorang Sultan. Demikianlah pamor Sultan terus mempesona hingga waktu beranjak berubah.


Gambar pintu gerbang keraton Yogyakarta dari Ranesi.
Di posting di deroom pada  9 Maret 2009.

0 komentar:

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html www.lowongankerjababysitter.com www.lowongankerjapembanturumahtangga.com www.lowonganperawatlansia.com www.lowonganperawatlansia.com www.yayasanperawatlansia.com www.penyalurpembanturumahtanggaku.com www.bajubatikmodernku.com www.bestdaytradingstrategyy.com www.paketpernikahanmurahjakarta.com www.paketweddingorganizerjakarta.com www.undanganpernikahanunikmurah.com

Posting Komentar