Minggu, 19 Juni 2011

Fenomena Episode 9 : Chairil Anwar

Chairil Anwar mendadak nama ini sangat populer ketika Puisi berjudul Aku mulai naik daun, ditambah lagi penyair angkatan 45 ini meninggal diusia muda.

Siapa tak kenal seorang Chairil Anwar. Namanya masih saja menghiasa daftar buku-buku terlaris bahkan sampai pasar loak. Terutama bukunya dengan judul Aku yang memang juga memuat puisi fenomenalnya dengan judul yang sama.

Pujangga yang satu ini senantiasa disebut “Binatang Jalang…”. Dalam pusinyapun, juga yang berjudul Aku, dengan tegas ia katakan “aku ini binatang jalang”. Bahkan pada masa itu, adalah kata yang sangat kasar dan seronok. Tapi Chairil Anwar berani mengungkapkannya dimuka umum. Sebuah puisi betapa ia menatikan hidup dinegara sendiri dengan kemerdekaan mutlak dan harga diri bangsa.

Sebenarnya latar pendidikan tidak terlalu mendukungnya sebagai seorang penulis besar. Lihatlah buku di rak-rak toko buku, kebanyakan penulis besar adalah mereka dengan banyak gelar dan namanya semakin panjang dengan tambahan gelar-gelar tersebut. Tapi seorang Chairil Anwar bahkan hanya sekolah HIS dan MULO-pun ia tak tamat, sangat bertolak dengan hasil karyanya yang masih popular hingga kini.

Dimana ada sekolah dan setiap saat di sekolah itu ada pelajaran Bahasa Indonesia, pasti nama Chairil Anwar disebut disana. Hingga perguruan tinggi berbasis Bahasa Indonesiapun mewajibkan mahasiswanya punya dan menganalisa buku Aku dari seorang Chairil Anwar. Demikian ia terus-menerus menanamkan dirinya dalam pikiran generasi-generasi sastrawan muda. Meskipun bukan sastrawan, tapi tetap kenal dengan tokoh yang satu ini.

Lahir di Medan Sumatera Utara 26 Juli 1922. Dan meninggal di Jakarta, 28 April 1949, belum genap ia berusia 30 tahun akibat TBC yang ia derita. Karya-karya yang berhasil ia sumbangkan pada masa dan masa beberapa diantaranya adalah
- Kumpulan Puisi Kerikil Tajam dan yang Terampas dan yang Putus (1949);
- Deru Campur Debu (1949);
- Tiga Menguak Takdir (1950 bersama Asrul Sani dan Rivai Apin);
- Aku Ini Binatang Jalang (1986);
- Koleksi sajak 1942-1949", diedit oleh Pamusuk Eneste, kata penutup oleh Sapardi Djoko Damono (1986);
- Derai-derai Cemara (1998)
- Buku kumpulan puisinya diterbitkan Gramedia berjudul Aku ini Binatang Jalang (1986).

Karya Terjemahan:
Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948, Andre Gide)
- Kena Gempur (1951, John Steinbeck).

Karyanya Chairil Anwar diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Jerman dan Spanyol:
- "Sharp gravel, Indonesian poems", oleh Donna M. Dickinson (Berkeley, California, 1960);
- "Cuatro poemas indonesios, Amir Hamzah, Chairil Anwar, Walujati" (Madrid: Palma de Mallorca, 1962);
- Chairil Anwar: Selected Poems oleh Burton Raffel dan Nurdin Salam (New York, New Directions, 1963);
- "Only Dust: Three Modern Indonesian Poets", oleh Ulli Beier (Port Moresby [New Guinea]: Papua Pocket Poets, 1969);
- The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Burton Raffel (Albany, State University of New York Press, 1970)
- The Complete Poems of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Liaw Yock Fang, dengan bantuan H. B. Jassin (Singapore: University Education Press, 1974)
- Feuer und Asche: sämtliche Gedichte, Indonesisch/Deutsch oleh Walter Karwath (Wina: Octopus Verlag, 1978)
- The Voice of the Night: Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, oleh Burton Raffel (Athens, Ohio: Ohio University, Center for International Studies, 1993)

Berikut disajikan Puisi Aku dari Cahiril Anwan puisi ini yang sedikit banyak membuatnya panjang usis hingga sekarang :
AKU
Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret 1943

Dengan karya-karya tulisnya, Chairil Anwar berhasil melampaui ruang dan waktu. Tanpa banyak bicara dan atau membuat perang besarpun, dengan goresan-goresan pena, Chairil Anwar berhasil membuktikan, untuk jadi besar tak harus dengan gelimangan air mata dan darah, cukup lugas, Chairil Anwar membuktikan dengan goresan pena.
Foto Chairil Anwar koleksi dari TokohIndonesia
Di posting di deroom pada 4 Juni 2009.

1 komentar: