Selasa, 14 Juni 2011

Archa Budha Perunggu

Jika Anda bekunjung ke Malang dan banyak memperlajari tentang Sejarah Malang, Anda tak akan jauh dari Gajayana, seorang raja yang pernah memimpin Malang jauh sebelum nama Malang itu muncul.

Termasuk Anda akan mejumpai Universitas Gajayana. Letakknya tak begitu jauh dari pusat Kota Malang. Dari depan Pasar Dinoyo Anda tinggal melangkah ke arah selatan sekitar 500 meter. Namun bukan Universitas Gajayana yang kita bahas kali ini.

Di areal tanah yang sekarang berdiri gedung-gedung megah tempat perkuliahan tersebut. Oleh para ahli sejarah disimpulkan dahulu adalah pusat pemujaan. Baik pada Zaman Mpu Sindok, Kerajaan Gajayana hingga pada zaman Kerajaan Singosari.

Para ahli menyimpulkan hal tersebt memang bukan semata karena analisa. Banyak bukti yang mengarah pada kesimpulan tersebut. Salah satunya dalah ditemukannya Arca Budha yang terbuat dari perunggu. Arca tersebut ditemukan pada saat penggalian di tahun 1987 ketika Universitas Tersebut dibangun. Saat ini Arca tersebut tersimpan dengan baik di Unoversita tersebut dan menjadi salah satu kebanggaan karena mereka memelihara salah satu benda purbakala yang langka tentunya.

Karena terbuat dari perunggu, Arca tersebut bukanlah Arca asli buatan Indonesia pada kala itu. Melainkan impor dari Thailand atau India dan berasal dari sekitar Abad 5. Ini membuktikan Kerajaan Kanjuruhan kala itu sudah membuka hubungan dengan bangsa luar negeri.

Arca ini memang tidak besar ukurannya. Bahkan tidak lebih tinggi dari saya. Namun rumor yang beredar luas hingga saat ini. Apabila pejabat ingin mendapat jabatan yang ia inginkan, ia tinggal melihat Arca tersebut dari dekat. Memang banyak sudah pejabat baik regional Malang hingga pejabat teras atas negeri ini yang sebelum mendapat jabatannya, ia berkunjung ke tempat ini untuk melihat Arca Budha ini lebih dekat. Dan jabatan itupun ia dapatkan. Namun sekali lagi, ini hanya rumor. Mengenai jabatan yang berhasil doperoleh tentunya banyak faktor lain untuk itu.

Karena Arca ini dirawat secara Eklusif oleh pihak Universitas, maka Arca tersebut bukan konsumsi publik. Hanya kalangan tertentu yang boleh mengaksesnya, apalagi letaknya di ruang salag satu petinggi universitas. Tepatnya di ruang C Pasca Sarjana Ruang Seketaris Yayasan. Karena dibawah ruang itulah yang dahulu tempat ditemukan Arca tersebut. Beruntung waktu itu saya dapat akses untuk melihat dan mengorek tentang Arca tersebut lebih dekat serta langsung diantar oleh pihak Universitas untuk menjelajahi tempat purba lain yang ada dilingkungan Universitas, dengan penjelasan dari beliau tentunya.

Selain Arca, di tempat yang sama, tak jauh dari Arca Budha. Terdapat sumber air yang memencar terus menerus layaknya gletser. Study yang dilakukan pihak Universitaspun membuktikan air tersebut layak langsung minum. Sayang, sumber air tersebut ditutup untuk umum dan dipasang jet pump, sehingga tak bisa lagi dinikmati pancaran airnya. Namun pihak universitas tetap merawat dengan menanami banyak pohon di sekitar sumber air tersebut. Dari satu sumber air itu, sapat mencukupi kebutuhan seluruh Universitas.
Bukan hanya itu. Tak jauh juga dari lokasi sumber air. Terdapat beberapa batu-batu bundar. Dan para ahlipun menyimpulkan itu adalah tempat duduk yang digunakan dalam acara pemujaan. Bukan hanya satu atau dua, tapi banyak sekali. Bahkan beberapa diantaranya di letakkan disekitar gedung.

Dari beberapa temuan tersebut. Kembali diperoleh fakta, bahwa tempat tersebut dahulunya memang tempat pemujaan yang sangat luas dan tergabung dalam satu system dengan Arca Stambha Singo serta Situs Watu Gong yang letaknya tak begitu jauh. Didukung juga dengan lokasi ditemukannya Prasasti Dinoyo 1 dan 2.

Bahkan, akhir-akhir ini. Para ahli menganalisa dibawah gedung Universitas Gajayana tersebut membentang terowongan yang tembus langsung ke Singosari. Namun untuk hal ini masih analisa dan belum diadakan penggalian. Sementara pihak Kampus dikonfirmasi tentang penggalian terowongan tersebut, mareka belum dapat memastikan mengingat mereka bukan sejarawan dan ada yang lebih ahli dalam bidang tersebut.

Sedikit di singgung pula tentang Arca Budha yang masih tersimpan diruangannya. Sekretasir Yayasan belum buka mulut tentang penyerahan ke pihak musem atau semacamnya. Karena ia yakin perawatan yang dilakukan sudah sangat maksimal, dan ia sangat takut apabila dipindahkan, dikhawatirkan perawatan berikutnya kurang baik. Apalagi banyak sudah yang menawar Arca tersebut dengan harga menggiurkan. Namun pihak Universitas kembali tidak bersedia melepas salah satu kebanggannya tersebut.

Sedangkan menurun Ketentuan. Memang benda purbakalan diperbolehkan untuk dirawat atau dipelihara oleh perorangan atau badang usaha. Namun dilarang untuk dimiliki. Dan untuk pemindahan benda purbakala dari tempat satu ketempat lain tidak semudah zaman dahulu, namun sekarang ada prosedur yang lebih lengkap.

 Foto by Dedy . Nawi. Diposting di deroom pada 14 Agustus 2008


0 comments:

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html www.lowongankerjababysitter.com www.lowongankerjapembanturumahtangga.com www.lowonganperawatlansia.com www.lowonganperawatlansia.com www.yayasanperawatlansia.com www.penyalurpembanturumahtanggaku.com www.bajubatikmodernku.com www.bestdaytradingstrategyy.com www.paketpernikahanmurahjakarta.com www.paketweddingorganizerjakarta.com www.undanganpernikahanunikmurah.com

Posting Komentar