Senin, 20 Juni 2011

Kenapa memilih Bunuh diri ?

For english version, clicl here

“Walau tidak ada catatan statistik yang akurat, selebritas Korea tampak lebih rentan bunuh diri ketimbang artis di Amerika, Eropa, atau Jepang.”
Cha Dong Hae, mantan anggota SG Wannabe (grup paling populer di Korea), menambah panjang daftar selebritas yang meninggal bunuh diri. Hae memang dikabarkan menderita depresi berat setelah dua tahun lalu ditinggal mati manajernya — yang juga bunuh diri di sebuah hotel.
 

Walau tidak ada catatan statistik yang akurat, selebritas Korea tampak lebih rentan bunuh diri ketimbang artis di Amerika, Eropa, atau Jepang. Padahal tekanan yang dialami dalam mencapai ketenaran kurang lebih sama.

Tahun 2005, artis Lee Eun-Ju (yang sedang naik daun) ditemukan gantung diri. Langkah serupa juga rupanya diambil oleh selebritas Korea yang lain seperti U-Nee, Jeong Da-bin, Ahn Jae-hwan, Choi Jin-sil dan adiknya, Choi Jin-young.

Yang paling menggegerkan, aktor pelopor invasi demam Korea Park Yong Ha tahun lalu ditemukan tewas gantung diri dengan kabel telepon di kamarnya.

Apa yang mendorong selebritas Korea begitu mudah mencabut nyawa mereka sendiri?

Percaya atau tidak, negara Korea ternyata memiliki tingkat bunuh diri tertinggi di dunia. Organization for Economic Cooperation and Development mencatat, 21 dari 100 ribu orang Korea melakukan bunuh diri — melewati batas normal yaitu 11.

Hwang Sang-Min, seorang psikolog dari Universitas Yonsei, mengungkapkan bahwa orang Korea cenderung membentuk identitas mereka sesuai pandangan orang lain terhadap dirinya. Selain itu, mereka juga memiliki konsep Han — yaitu bersikap diam dan berusaha tabah walau dalam keadaan marah.
“Percaya atau tidak, negara Korea ternyata memiliki tingkat bunuh diri tertinggi di dunia.”

Pekerjaan sebagai selebritas yang sangat lekat dengan urusan pencitraan (alias tergantung pada popularitas) membuat konsep Han jadi amat berat dilaksanakan. Terutama bila mereka sedang menghadapi situasi yang buruk.

Karena selebritas tidak lagi mampu menunjukkan citra baik dan tenang, mereka cenderung frustrasi, menyerah, dan mengambil pilihan drastis — salah satunya adalah bunuh diri.
Faktor lain yang juga berpengaruh dalam tingginya tingkat bunuh diri di kalangan selebritas Korea adalah kurangnya program konseling. Budaya Korea yang cenderung tertutup juga membuat para selebritas itu malu jika ketahuan publik saat pergi ke konseling atau sedang mengalami depresi.
Selain itu, faktor agama rupanya juga memegang peran. Hampir setengah penduduk Korea tidak memiliki agama, sehingga ketika mereka mengalami depresi, penghargaan terhadap nilai kehidupan pun rendah.

Kepercayaan akan konsep reinkarnasi juga membuat orang Korea terdorong untuk mengakhiri hidup mereka dan menjalani kehidupan baru yang mungkin lebih baik dari sekarang.
Yang mengkhawatirkan, banyaknya kasus bunuh diri di kalangan selebritas menimbulkan kecenderungan serupa di kalangan penggemar mereka. Sejak kematian aktris Lee Eun-Ju pada 2005, tingkat bunuh diri dikabarkan mengalami peningkatan cukup signifikan.
Oh Kangsub, seorang psikiater di RS Kanbuk Samsung mengatakan, “Ketika seorang selebritas bunuh diri, penggemar mereka akan mengikuti aksi sang idola.”
Sebagai langkah antisipasi, kabarnya saat ini pemerintah Korea sedang gencar menggalakkan program konseling di banyak rumah sakit untuk membantu para warga yang sedang depresi.Tulisan diatas diambil dari YahooNews.. Demikian juga dengan tulisan berikut yang diambil dari berbagai sumber, salah satunya dari EoNet

Masih berkaitan dengan bunuh diri. Salain Korea, dikenal juga Jepang yang memiliki budaya bunuh diri, dikenal dengan Seppuku. Tradisi ini lebih dikenal sebagai bunuh diri ala samurai dan memang banyak terjadi pada era itu, sebagaimana yang sering kita lihat di film-film Jepang berlatar samurai hampis selalu ada adegan Seppuku. Initnya, budaya ini adalah bunuh diri oleh samurai untuk alasah “minta maaf” atau menanggung malu atas kekalagan di medan perang, para samurai ini lebih baik bunuh diri ketika kalah ketimbang harus tertangkap lawan. Budaya Seppuku resmi dilarang pada tahun 1873 dan banyak kita kenal sebagai restorasi Meiji.

Posisi Agama dan Mind Set Bunuh Diri

Agama berperan netral dalam hal ini, tentu tulisan ini tidak memilih salah satu agama sebagai referensi, tapi lebh mengarah pada dampak umum agama dalam permasalahan ini.
Agama berperan sebagai pencegah bunuh diri paling ampuh. Ya, karena agama mengajarkan tentang keseimbangan kehidupan, baik kehidupan pribadi maupun dengan bermasyarakat. Agama juga sebagai kebutuhan rohani setiap manusia telah mengakomodir kebutuhan tersebut sehingga agama mampu sebagai pelarian atas berbagai masalah dan depresi yang dialami. Dampak positif atas keberadaan agama inilah yang membuat manusia tidak tertekan atas segala permasalahan yang ada, karena segala tekanan tersebut dikembalikan pada agama yang mampu memberikan solusi rohani pada umatnya.

Agama bertindak sebagai pemicu. Mungkin kalimat tersebut bisa diganti “berkedok agama demi kepentingan tertentu”.  Rupanya ini tidak usah dijelaskan panjang lebar, cukup bom bali contohnya.

Dalam hal apapun, bunuh diri memiliki dua sisi, ada yang mengatakan “ya” dan psati adanya yang mengatakan “tidak”. Tapi kembali lagi pada topik bahasan ini “Kenapa memilih Bunuh diri ?

Satu inspirasi yang bisa jadi petimbangan. Saya pernah menemui dan diajar seorang dosen, luar biasa hebatnya dalam bidang seni dan sangat pantas jika aku memanggilnya maestro seni desain, beliau mengajar tentang menggambar & sketsa dan nirmana. Dalam tempo waktu 10 tahun beliau harus berjalan susah payah menggunakan enggrang. Beliau saat itupun mengalami depresi, tapi kalimat singkat yang selalu beliau pegang, dan menginspirasi orang-orang disekitarnya.”Jika tangan dan pikiran ini masih bisa difungsikan, kenapa tidak?”  Kalimat singkat, tapi sangat dalam makananya.

1 komentar:

  1. Haloo :)
    makasih udh pasang link aku :D
    Banner kamu juga udh aku pasang. Bisa dilihat di mellbiruu.nlogspot.com
    aku juga udh follow kamu :)
    followback plz

    BalasHapus