Sabtu, 18 Juni 2011

Legenda Episode 5 : Dewi Sri

Dewi Sri, Dewi Padi. Dan padi sebagai penghasil beras untuk bahan makanan pokok orang Indonesia dan diakui secara Internasional. Padi yang kemudian menjadi beras dan diolah menjadi nasi dalam bahasa Inggris dikenal dengan satu nama tunggal ‘rice’. Dan nasi memang mengandung banyak zat hidrat arang selain gandum. 
Setidaknya hingga saat ini Indonesia benar-benar memuja padi. Bahkan pemerintah menargetkan pada petani agar bangsa ini surplus persediaan beras dan tidak perlu lagi impor dari negara lain. Inilah salah satu bukti betapa pentingnya kedudukan padi/ beras dalam kehidupan, karena selain sebagai bahan makanan pokok, nilai ekonomis padi tidak bisa dipungkiri lagi. Dan bahkan padipun mempengarui situasi politik dibangsa ini. Hanya dari sebulir padi yang kadang dicampakan, negeri ini bisa terguncang situasi keamanan dan stabilitas ekoniminya. Karena kedudukannya yang sangat penting inilah padi didedikasikan sebagai lambang kemakmuran dan harapan.

Padi atau dalam bahasa Jawa kuno disebutkan sebagi Sri (makmur) atau yang dihormati. Keberadaan Dewi Sri-pun dalam benak masyarakat Jawa khususnya, bukan hal asing lagi dan begitu melekat hebat dalam segi-segi kehidupan mereka. Lihatlah betapa banyak anak-anak yang diberi nama ‘Sri’ bukan hanya perempuan, tapi juga laki-laki. Luar biasa penghormatan mereka pada Dewi Sri yang dipercaya memberi kehidupan bagi mereka, hingga sebelum masa tanam disawah dimulai, mereka tetap menyempatkan rasa syukur pada pada Tuhan dan bentuk-bantuk penghormatan lain pada Dewi Sri salah satunya menanam telur ayam kampung segar pada keempat penjuru sudut sawah.

Legenda mengatakan, Dewi Sri adalah salah seorang cantik dikahyangan. Kisahnya dimulai ketika Bhatara Guru ingin membangun istana baru dan meminta seluruh Dewa memberi sokongan bahan bangunan, baik kayu atau batu. Tapi Dewa Anta yang seekor ular tak bisa manyanggupi, dan ketika Bhatara Narada mendatanginya dan menanyakan perilah ketidak bisaannya, Dewa Anta meratapi nasibnya karena tak punya tangan dan kaki sehingga tak dapat mengangkat kayu ataupun batu. Dewa Anta menangis, menitikan 3 tetes air mata dan ketiganya jatuh berubah menjadi 3 butir telur.

Hanya 3 telur itulah yang ia persembahkan pada Bhatara Guru. Ditengah jalan ia bertemu dengan Garuda, Dewa Anta karena mulutnya mengulum 3 telur maka ia tak bisa menjawab seluruh pertanyaan dan sapaan dari sahabatnya itu. Garudapun marah dan mematuk kepala Dewa Anta. Karena kesakitan ia melengking hingga 2 telur jatuh kebumi, kelak 2 telur inilah yang diasuh seekor lembu dan menjadi tumbuh menjadi celeng penjaga setia padi. Sementara 1 telur berhasil ia persembahkan pada Bhatara Guru.

Telur menetas dan waktu mengiringnya menjadi perempuan sangat cantik dan mempesona, inilah Dewi Sri, seluruh tubuhnya bagai berlian memancar, tingkah laku dan budinya sangat tinggi hingga siapaun terkesima dengannya. Termasuk para Dewa khawatir Bhatara Guru yang notabene adalah ayahnya, nantinya naksir juga pada Dewi Sri. Maka para Dewa mencari cara untuk membunuh Dewi Sri. Rencana berhasil dan Dewi Sri mati, jasadnya dimakamkan pada sebuah bangunan dengan atap tumpang 3. Tak berapa lama disekeliling makamnya tumbuh tumbuhan yang sebelumnya belum pernah dikenal. Tumbuhan dengan buah sangat menawan, bulir-bulirnya banyak dan berwarna keemasan. Bhatar Guru mengutus penjaga makan Dewi Sri untuk menurunkan benih-benih tanaman itu ke bumi, Bhatara Guru juga mengutus beberapa Dewa dan Dewi untuk memberi pengajaran pada manusia perihal penanaman dan pembiakan tanaman itu. Kelak tanaman ini adalah sumber makanan pokok bagi manusia, inilah yang kemudian dikenal dengan Sri alias padi.

Pernah ada atau tidak dan pernah hidup atau tidak, tapi Dewi Sri tetap hidup di hati orang Jawa terutama yang setiap hari bergelut dengan Sri/ padi. Banyak yang bilang itu semua hanya karangan kuno dan tradisi yang gak penting. Tapi justru mereka yang bilang seperti itu karena belum melihat secara langsung dan detail bagaimana kehidupan para petani dipedesaan. Memang zaman telah modern, pupuk dan ilmu perbintangan, ilmu pertanian demikian maju. Tapi tetap pata petani yang berpengalaman pantang untuk menanam padinya di bulan Februari, kenapa ? karena alasan mereka, Dewi Sri belum muncul, dan kalau tetap nekad tanam padi di bulan Februari, bisa dipastikan tanamnnya hancur, entah karena wereng, ulat, keong emas atau bahkan banjir. Intinya panen gagal.

Kepercayaan dan penghormatan pada Dewi Sri mempengarui pola tanam petani. Meski teknologi menggempur dengan sangat kuat, tapi pola pikir dan kpercayaan memang sangat sulit berubah bahkan tak mungkin berubah. Hingga pemerintahpun selalu waspada pada bulan-bulan Februari hingga Mei karena rawan kurang pangan dan cadangan beras menipis. Satu lagi ini karena pola tanam petani pantang di bulan Februari.

Ratusan tahun sudah Dewi Sri berhasil membuat pola tanam petani yang secara kongrit dari masa ke masa tak banyak mengalami perubahan.

Di posting di deroom pada  28 Maret 2009.

0 comments:

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html www.lowongankerjababysitter.com www.lowongankerjapembanturumahtangga.com www.lowonganperawatlansia.com www.lowonganperawatlansia.com www.yayasanperawatlansia.com www.penyalurpembanturumahtanggaku.com www.bajubatikmodernku.com www.bestdaytradingstrategyy.com www.paketpernikahanmurahjakarta.com www.paketweddingorganizerjakarta.com www.undanganpernikahanunikmurah.com

Posting Komentar