Sabtu, 18 Juni 2011

Legenda Episode 7 : Siti Nurbaya

Siapa tak kenal Siti Nurbaya, si wanita cantik yang seakan jadi icon kekejaman uang dan nikah paksa. Tapi siapa sangka si cantik ini adalah karangan semata.

Kisah hidupnya terangkum dalam sebuah Roman karya Marah Rusli   dengan judul Kasih Tak Sampai. Sekaligus Roman inilah yang senantiasa mengabadikan namanya jauh sejak puluhan tahun lalu. Dari latar cerita Roman disekitar daerah kota Padang maka hingga sekarangpun kota Ampera itu dapat julukan sebagai kota Siti Nurbaya. Dan lebih detail dari itu latar cerita berada di daerah kota tua Padang di kaki Gunung Padang.

Secara ringkas Roman Kasih Tak Sampai adalah perjalanan cinta Siti Nurbaya dengan Samsul Bahri, tapi karena alasan uang maka Datuk Maringgih merasa berkuasa dan iapun melamar paksa Siti Nurbaya, karena terlanjur cinta dengan Samsul Bahri yang saat itu tengah menjalani pendidikan sebagai Dokter di Jawa, Siti Nurbaya bersi kukuh tak akan mau menikah dengan Datuk Maringgih yang sebenarnya lebih pantas dipanggil ayah olenya dan Datuk ini dikenal suka beristri banyak. Demikianlah karena sebal, maka Datuk Maringgih memberi racun dan matilah Siti Nurbaya, secara singkat cerita selanjutnya mempertemukan kembali Samsul Bahri dengan Datuk Maringgih dalam sebuah pertempuran, keduanya mati saat saling berhadapan.

Karena saking tersohornya roman ini dan masyarakat Padang  sangat bangga dengannya. Maka nama Siti Nurbaya diabadikan untuk nama sebuah jembatan cantik sebagai aset pariwisata. Jembatan dengan lampu-lampu indah dan pemandangan gunung Padang, dibawahnya ada Kota tua Padang yang diceritakan sebagai tempat hidup Siti Nurbaya hingga matinya. Bahkan karena saking melekatnya cerita ini dengan kehidupan, hingga diyakini Siti Nurbaya pernah ada dan hidup, bukan sekedar roman. Itulah salah satu alasan di salah satu sudut gunung Padang dinyakini sebagai makam Siti Nurbaya.

Memang alasan tersebut tak dapat dimuntahkan semena-mena. Toh memang ada sebongkah batu kira-kira berukuran 14-20 cm yang menyumbul dari tanah menyerupai batu nisan. Sementara lokasi hidup Siti Nurbaya dan Samsul Bahri serta segala kejadian seperti yang ada di Roman terletak di kota tua kaki gunung tersebut, belum lagi dengan Teluk Bayur adalah saksi bisu perpisahan kala Samsul Bahri akan menyeberang ke pulau Jawa untuk belajar, disanalah Siti Nurbaya menangis tersedu karena jauh dari kekasih hatinya. Tak heran masyarakat setempat mengaitkan kejadian alam tersebut dengan Roman kebanggan mereka.

Sekarang situs yang diyakini sebagai peninggalan Siti Nurbaya tersebut benar-benar jadi salah satu ikon kota Padang meskipun kota tua jauh dari perawatan yang memadai dan gunung Padang serta lokasi yang dinyakini sebagai makam Siti Nurbaya tersebut mulai terancam oleh longsor dan gempa  yang sangat bisa merusak situs itu dikemudian hari.

Tapi yang jelas, Siti Nurbaya telah memberi pengaruh yang luas bukan hanya pada masyarakat Padang, tapi juga keseluruhan penikmat sastra Melayu termasuk Indonesia dan Malaysia. Meski hanya terangkum dalam Roman karangan, Siti Nurbaya seakan pernah hidup dan menginjakkan kakinya di tanah Padang, serta keberadaan Samsul Bahri dan Datuk Maringgih. Sayang sekali dunia perfilman Indonesia kurang jeli melihat peluang dari kisah legendaris ini. Dulu kisah ini pernah diangkat TVRI  dalam sebuah sinetron dengan Novia Kolopaking sebagai Siti Nurbaya.

Berbeda dengan Legenda Roro Jonggrang yang seakan kisah atau bukti otentiknya penceritaan dirinya hanya dapat dinikmati sejarawan karena tertulis dalam tulisan Jawa kuno, tapi tidak dengan Siti Nurbaya, ia lebih menawarkan kemodernan dan flexibilitas. Bahkan bukunya dapat ditemui hampir diseluruh perpustakaan, di toko buku bahkan selalu keluar edisi cetakan terbarunya, tidak ketinggalan di tempat buku bekas. Semua orang dapat memilikinya dan dapat membacanya tentu dengan imaginasi masing-masing seperti apa tokoh seorang Siti Nurbaya.

Kenapa Siti Nurbaya, bukan Marah Rusli yang notabene adalah pengarangnya ?

Ya, karena waktu telah membuktikan Siti Nurbaya lebih hidup bahkan ketimbang pengarangnya. Disinilah keunikan dan hebatnya seorang Marah Rusli, seakan ia mampu menghembuskan nafas pada tokoh buatannya hingga hidup puluhan tahun lebih lama ketimbang dirinya sendiri. Selain juga Siti Nurbaya lebih familiar dimata masyarakat, hanya orang-orang dibangku sekolah saja yang tahu siapa itu Marah Rusli, bahkan yang dibangku sekolahpun juga lupa siapa itu Marah Rusli.

Siti Nurbaya, fotonyapun tak ada, tak pernah ditemukan. Tapi orang demikian yakin ia hidup dan mejejakkan kaki di bumi ini, di bumi Padang. Sebagai pengahargaan atas perjuangan cinta abadi dengan kedua insan ini, Siti Nurbaya dan Samsul Bahri, mereka rela mati bahkan sebelum cinta mereka bersatu dalam ikatan perkawinan. Memang inilah kasih yang mereka jalin tapi tak sampai pada tujuan. Hingga Marah Rusli memberinya judul “Kasih Tak Sampai”.

Di posting di deroom pada 4 Juni 2009.

0 comments:

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html www.lowongankerjababysitter.com www.lowongankerjapembanturumahtangga.com www.lowonganperawatlansia.com www.lowonganperawatlansia.com www.yayasanperawatlansia.com www.penyalurpembanturumahtanggaku.com www.bajubatikmodernku.com www.bestdaytradingstrategyy.com www.paketpernikahanmurahjakarta.com www.paketweddingorganizerjakarta.com www.undanganpernikahanunikmurah.com

Posting Komentar