Minggu, 19 Juni 2011

Menangis Tak Selalu Jadi Jawaban

for english version,clickhere

Malam ini aku hanya bisa meratapi nasibku, aku hanya bisa menangis dan menjerit layaknya orang tak waras. aku pun keluar dari rumah dan melampiaskan semua sakid hatikku dengan mengadu kecepatan dengan orang-orang yang berada di jalan. Tak terasa “brakkkkkk!”. Suara benturan motorku dengan aspal. Aku hanya bisa terdiam sambil menangis.
Banyak orang mendatangiku untuk menolong kembali berdiri. Sekarang yang aku rasakan bukan hanya sakit hatiku tapi juga tangan dan kakiku yang tertimpa motor. Rasanya seperti mati rasa. Tapi itu tak seberapa. Aku kembali pulang dengan luka di kaki dan tanganku. Aku tak tahu harus berkata apa pada orang tuaku. setiba di rumah, benar dugaanku. Aku di marahi habis-habisan. Aku hanya bisa terdiam karena aku sudah terlalu lelah untuk berdebat dengan mereka. Aku masuk ke dalam kamarku dan berganti pakaian. Saat aku kembali teringat pada kejadian siang ini, aku hanya bisa menangis. Menangis untuk kesekian kalinya.

Adalah salah satu kutipan dari wall FB seorang teman, tentu tentang kisah hidupnya. Hanya dengan membaca satu alenia itu saja, aku langsung simpatik, betapa dia terjerumus dalam masalah yang justru dia lahirkan sendiri.

Masalah memang bukan hal asing dalam hidup kita, toh kite memang dilahirkan kedunia untuk bertemu dan menyelesaikan masalah, bukan untuk menghindari masalah apalagi membuat masalah. Persepsi selama ini yang berkembang tentang sebuah masalah adalah bagaiman cara agar tak bertemu masalah dan parahnya banyak tips and trik untuk menghindari masalah. Memang ini tak selamanya bisa disalahkan dan tidak selamanya bisa dibernarkan. Karena, sekali lagi, masalah bukan untuk dihindari, tapi untuk diselesaikan, dan dengan masalahlah Tuhan semakin mengangkat kualitas hidup kita. Semakin banyak masalah yang bisa kita selesaikan dengan baik, maka dengan sendirinya derajat kita dinaikan oleh Tuhan.

Lain orang maka lain pula caranya menghadapi masalah. Dan yang paling sering adalah menangis. Yuk sama-sama kita tilik, apakah menangis bisa menyelesaikan apa yang harusnya segera kita selesaikan.

Menangis sebagai reflek :
Ini terjadi pada beberapa orang, mereka sontak menangis saat ada masalah. Bahkan tak jarang yang langsung keluar air matanya.

Menangis sebagai hal tunda :
Mungkin pertimbangan mereka merasa tak nyaman jika sontak menangis. Makanya mereka menyimpan dulu tangisan itu hingga ditempat yang sesuai, misalnya dikamar. Akibatnya tangisan yang ditimbulkan akan semakin dasyat dari kelompok pertama.
Mungkin masih banyak tangisan yang lain. Tapi yang jadi pertanyaan awal, apakah menangis bisa menyelesaikan masalah ?

Dalam tulisan kali ini tidak disebutkan “ya” atau “tidak” atas pertanyaan tersebut. Tapi alangkah lebih baiknya ada beberapa alasan pendukung.
  1. Jika menangis, biasanya dalam keadaan tertunduk atau bahkan menunduk sempurna. Sikap seperti ini merangsang otak mengirimkan sinyal “terpuruk”, akibatnya tubuhpun menerima sinyal tersebut sehingga terjadi kombinasi total atas hati dan perasaan yang terpuruk ditambah tubuh juga terpuruk, lengkaplah sudah, makanya gak heran jika banyak orang betah menangis dalam sikap badan seperti ini,
  2. Mendongan, atau melihat keatas, membantu kita melupakan sejenak kepenatan, keterpurukan dan mendapat sinyal kebahagiaan atau harapan jauh kedepan, misalnya cita-cita. Jadi jika tak ingin menangis atas hal apapun cobalah mendongak atau melihat ke atap atau bahkan langit, disarankan di atap kamarmu ada ornamen yang menarik,
  3. Lihatlah para pemimpin besar kira, para pembesar, para pesohor, mereka sangat jarang sekali menundukkan kepala kecuali saat mereka ibadah, dalam hal apapun, pidato, berjalan bahkan berjabat tangan, pandangan mereka lurus dan tajam, sama artinya mereka memiliki pengaruh dan pemikiran yang kuat, terutama mereka memiliki cita-cita jauh dari orang rata-rata, dan yang pasti mereka optimis. Apakah mereka tak pernah menangis ? pasti pernah, tapi tangisan mereka tak berpengaruh pada kehidupannya, bagi mereka tangisan sedih hanyalah bumbu pelengkap.

Semoga tulisan ini bisa menjadi motivasi dan wawasan baru bagi kita semua. Setidaknya kita tahu kapan menangis dan kapan menghantikan tangisan itu. Terutama pada para pemuda, apakah akan kamu habiskan waktumu untuk menangisi hal-hal yang membuatmu sedih ? terlalu berharga umurmu.
OK, mulai sekarang katakan pada dirimu sendiri.
“Ya aku sekarang sedih, aku memangis. Tapi hanya 1 menit.”
Setelah itu mendongaklah dan pandang langit yang luas dan nikmati ciptaan agung Tuhan. Lalu katakan “Ok, tangisan ini cukup, terlalu berharga waktuku jika menangisi hal yang hanya jadi masa lalu, masa depanku lebih membutuhkanku akan kecerahannya”

Selamat memangis dan selamat menerangi masa depan.

0 komentar:

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html www.lowongankerjababysitter.com www.lowongankerjapembanturumahtangga.com www.lowonganperawatlansia.com www.lowonganperawatlansia.com www.yayasanperawatlansia.com www.penyalurpembanturumahtanggaku.com www.bajubatikmodernku.com www.bestdaytradingstrategyy.com www.paketpernikahanmurahjakarta.com www.paketweddingorganizerjakarta.com www.undanganpernikahanunikmurah.com

Posting Komentar