Selasa, 14 Juni 2011

Perpustakaan Anak Bangsa

Pertama Anda menginjak kaki ditempat ini. Tak jauh berbeda dengan kandang sapi bahkan kandang ayam. Ya...gak melebihkan sih, kata orang Hiperbola atau apalah, dan memang keadaannya seperti itu. Bahkan, saya tidak percaya bahwa banguna itu ada manusia didalamnya dan yang lebih lagi, itu adalah perpustakaan.Turun dari motor, saya masih berusaha menyakinkan diri bahwa itu memang perpusatakaan. Dan ternyata benar.

Eko Cahyono. Itulah dia sang pendiri sekaligus pemilik perpusatkaan ini. Ia mendirikan perpusatakaan sederhana itu sejak 1998. Wow...saat negara kita dalam keadaan kritis ternyata malah ada yang terbangun dan membangun. Salut untuk Eko Cahyono ;)

Sederhana saja konsepnya. Pertama ia hanya ingin menularkan minat baca pada anak-anak dilingkungannya hidup. Termasuk juga karena ia prihatin dengan anak-anak usia sekolah yang harusnya waktu mereka habis untuk belajar, malah habis untuk mebantu orang tua bekerja disawah. Beruntung mereka yang membantu orang tua kerja disawah, dan acungan jempol untuk mereka. Tapi bagaimana dengan yang menghabiskan waktunya sekedar kongkow kesana, kongkow kemari, nongkrong disana, nongkrong dimari dan gak ada manfaat, yang ada malah makin ngabisin duit. Belum lagi yang terjun dalam dunia miras dan narkoba plus judi, waduh lengkap banget tuch...

Dari itulah Eko timbul niatnya dan iapun merealisasikan. Plis dewh..apa gunanya ada niat dan kemampuan tapi gak ada realisasi, sama juga dengan Politikus dunk, yang kayak tikus n cuman jualan kecap. Eko memulainya dengan, sekali lagi sangat sederhana. Karena buku koleksinya yang lumayan banyak, maka setiap pagi ia keluarkan buku-buku tersebut dan disore hari kambali ia masukkan kamarnya. Begitu setiap harinya. Hari pertama memang tak banyak dan bahkan tak ada peminat, namun seiring waktu berlalu mulai banyak peminatnya. Dan bacaan yang adapun tidak melulu bacaan berat layaknya buku-buku bacaan profesor, Eko juga menegaskan, tak perlu bacaan yang berat dulu, bacaan seadanya dulu, yang penting mau membaca gitu aja dehc...

Seiring waktu berlalu, koleksi buku yang dimiliki Eko semakin bertambah. Disamping juga karena sumbangan semakin banyak mengalir. Konsekuensi yang diambil Ekopun, ia harus menuju kerumah satu persatu orang yang akan menyumbangkan bukunya, sejauh apapun ia tempuh jarak demi mengambil buku sumbangan itu. Dan alhasil buku koleksinya terus bertambah.

Tak selamanya usaha berjalan mulus. Karena buku yang semakin bertambah dan semakin banyak peminat terhadap perpusatakaannya. Ia harus merelakan kamarnya untuk menjadi perpusatakaan dan dijamah siapapun. Itulah yang kemudian membuat orang tua dan orang serumah Eko tak nyaman. Maklum memang, ulah anak-anak kecil dan remaja yang ramai, gaduh membuat orang tak nyaman. Akhirnya dengan sedih Eko harus berpusing-pusing mengatur segala sesuatu, ia tak ingin menyusahkan orang rumah, namun disisi lain ia harus tetap mempertahankan Perpusnya.

Ada kemauan pasti ada jalan, dengan usaha pastinya dan yang tak kalah penting dengan doa. Disaat sulit seperti itulah, seorang warga menawarkan sebidang tanah pada Eko dan dengan tak banyak pertimbangan Eko menyetujinya. Tanah itu kemudian didirkan sebuah bangunan gubug bambu yang diatas saya sebutkan mirip kandang sapi.

Di sebidang tanah itu, Eko harus mengeluarkan uang 200 ribu rupiah setahun untuk biaya kontrak. Si pemilik tanah sebenarnya sudah mengajukan penawaran pada Eko untuk membeli tanahnya seharga 30 juta. Angka sekian memang tak ada artinya bagi sebagian orang, tapi sangat tinggi bagi seorang Eko, iapun berharap ada dermawan yang membelikan tanah tersebut dan ia dapat membangun perpusnya lebih baik dan lebih nyaman.

Sejak berdiri, sekarang bersuai 11 tahun sudah perpusatakaan yang oleh Eko diberi nama Perpusatakaan Anak Bangsa. Sudah 10.000 bahkan lebih buku yang dikoleksinya. Dengan member 6.132 dan terus bertambah. Banyak sekali buku-buku yang tak dapat dijumpai di toko buku bahkan perpustaakn umum sekalipun, namun dapat ditemukan di perpusatakaan ini. Dan saya sendiripun sempat berdecak kagum, masih banyak ternyata buku-buku berangka tahun 1980-an bahkan 1970-an.

Kini Eko tak lagi harus berkeliling ke rumah-rumah untuk mengambil buku sumbangan. Karena kini tanpa disangka-sangka ada saja orang yang tiba-tiba datang mebawa buku, tak hanya itu, malah ada juga yang menyumbang kursi bahkan karpet dan komputer hingga TV. Saat ini yang paling banyak dibutuhkan adalah buku-buku tentang kepahlawanan. Anak-anak setempat sangat menyukai buku tersebut, namun di perpus Anak Bangsa belum memiliki koleksi yang beragam. Untuk itulah Eko berharap ada derawan yang menyumbangkan buku-buku tentang kepahlawanan.

Memang Eko tak memberi batas waktu untuk peminjaman buku. Tak jarang yang meminjam buku hingga bulanan. Dikonfirmasi tentang itu, Eko mengaku peduli dengan rekannya, dalam hal ini membernya. Karena tak sedikit dari mereka yang berprofesi sebagai pembantu rumah tangga dan bekerja di tempat yang jauh, hanya beberapa bulan sekali mereka pulang. Dan saat mereka pulang itulah mereka mampir ke perpus dan meminjam buku sekalugus mengembalikan yang dulu dipinjamnya. Eko juga mengaku hingga saat ini tak ada satupun buku yang hilang, jika tak ada ditempat, berarti memang dipinjam. Dan yang lebih menggembirakan, dengan hadirnya perpusatakaan tersebut, minat baca warga sekitar utamanya, terhitung memberi kabar baik. Dahulu perpus hanya didominasi anak-anak dan remaja, tapi kini bapak-bapak dan ibu-ibupun ikut nimbrung. Tak jarang juga dari mereka yang kadang kebingungan harus baca buku yang mana, karena saking banyaknya buku yang sudah mereka nikmati, tapi Eko juga mengaku, koleksi untuk buku-buku segmentasi bapak-bapak atau ibu-ibu, ia memang tak banyak mengoleksi buku jenis itu.

Jika Anda ingin berkunjung ketempat ini, silakan Anda ke Tumpang Malang. Jika dari Arah Malang ke Tumpang dari Jl. Laks. Ado Sucipto. Ketika pertama masuk wilayah Tumpang Anda akan menjumpai gapura selamat datang. Dari gapura tersebut sekitar 900 meter Anda menjumpai pertigaan yang sekaligus ke arah Coban Pelangi (Objek Wisata Air Terjun). Dari pertigaan yang sudah Anda lalui, sekitar 1 KM, Anda akan menjumpai sebuah bangunan dengan tulisan “Perpusatakaan Anak Bangsa”. Atau dengan alamatnya di Jl. Brawijaya desa Sukopuro, Jabung Malang.

Foto koleksi Dedy. Doposting ke deroom pada 14 Agustus 2008.

0 komentar:

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html www.lowongankerjababysitter.com www.lowongankerjapembanturumahtangga.com www.lowonganperawatlansia.com www.lowonganperawatlansia.com www.yayasanperawatlansia.com www.penyalurpembanturumahtanggaku.com www.bajubatikmodernku.com www.bestdaytradingstrategyy.com www.paketpernikahanmurahjakarta.com www.paketweddingorganizerjakarta.com www.undanganpernikahanunikmurah.com

Posting Komentar