Kamis, 18 Agustus 2011

Dzikir sosial eps 02. Membasuh 18 Agustus sebagai momentum berkarya.



Seusai Dr Radjiman Widyodiningrat membubarkan BPUPKI, lantas beliau memberi amanah pada Ir Soekarno untuk melanjutkan pembahasan ideologi negara dan terbentuklah panitia 9. Hingga perjalanan waktu mengantarkan negeri ini pada 18 Agustus 1945 sebagai momentum kelahiran Pancasila, sebuah karya luar biasa dari pendiri bangsa.
Pada perkembangan berikutnya Soekarno dipercaya sebagai Presiden bersama Moh Hatta, sementara Dr Radjiman yang seorang dokter mengabdikan diri di Ngawi Jawa Timur yang saat itu mewabah penyakit pes.
Khusuk peringatan kemerdekaan RI ke 66 pada 17 Agustus sekligus 17 ramadhan kemaren sedikit banyak menyadarkan pada kita betapa besar dan megah negeri ini. Tak ada sejengkalpun hal yang bisa menitipkan kekurangan pada manusianya, seluruhnya kebutuhan manusia disediakan denan sangat tepat dan melimpah.
Berpihak pada renungan seorang Taufiq Ismail yang “malu jadi orang Indonesia”, beliau merayakan kemederkaan negeri ini dengan caranya sendiri. Satu hal yang sangat menarik betapa beliau mentikan air mata bahkan menangis atas sesal, sesal yang atas perilaku yang dilakoninya sepanjang hidup. Sungguh mengesankan saat beliay berkata “aku malu belum memberikan semaksimal mungkin kemampuanku dalam mengisi kemerdekaan”. Wow.
Di belahan lain, sebuah stasiun tv swasta tengah menampilkan sebuah program yang mengnformasikan tentang tujuh nama orang Indonesia yang berhasil meraih rekor dunia. Perhatian tertuju pada Rudi Hartono, seorang pembulu tangkis yang tujuh kali berturut-turut memperoleh piala All England dan dinobatkan  sebagai Hero of Asia oleh majalah Times Nwe York. Selama ini Indonesia baru mengantungi dua nama, salah satunya Moh Hatta.
Memang negeri ini tak punya Washington, negeri tak megantongi nama besar Alfa Edison, negeri inipun tak membara atas kata-kata Helen Keller, bahkan negeri inipun punya Einstein. Bukan bermaksud membandingkan, tapi kenapa justru banyak sekali kita mengulas dan mengkiblat terhadap kecemerlangan mereka jika kita punya Sorkarno, kita punya Diponegoro, kitapun bangga dengan Kartini dan tak ketinggalan kitapun sangat apresiasi dengan Habibie.
Jadi, melihat keadaan negeri sendiri adalah hal terdekat yang bisa kita lakukan sekarang. Tak harus menjadi seorang Bung Tomo untuk memanaskan semangat, karena tak semua orang punya kemampuan motivasi macam beliau, tapi semua orang bisa bernafas dan berbicara.
Dari seluruh nama diatas, adakah satu saja orang yang termahtup dalam sejarah atas prestasinya mengumbar silat lidah ?
Adakah ? jika ada, tunjukan ?
Mereka adalah orang-orang yang sibuk berkarya. Apapun yang mereka bisa maka itulah yang mereka lakukan. Memang seorang Helen Keller hanyalah seorang gadis buta, bisu, tuli, tapu tulisan-tulisannya menggemparkan dan mencerahkan dunia bahkan hingga hari ini bukunya masig banyak diburu, padahal masa hidupnya pada 1880 semasa dengan Graham Bell. Ratusan tahun sepeninggalnya namanya tetap dikenang harum, hanya karena karnyanya.
Bung Tomo, dia berarya dengan bicaranya. Luar biasa pidatonya membangkitkan semngat arek Surabaya untuk merdeka atau mati atas penjajahan Belanda. Mereka sudah capek dengan penjajah, capek dengan segala penindasan dan merekapun mulai bangkit dan berkarya. Secara logika jumlah dan persenjataan, mereka kalah bahkan pada tanggal 10 Novmber pun mereka luluh lantak habis, tapi pidato dan gaungan takbir Bung Tomo memberi hasil yang luar biasa, hasil atas dasar semangat yang membara.
Bahkan sampai saat ini, kita hanya mengenal dan mengenang mereka cukup sebagai salah satu nama pahlawan nasional. Jika kita meman mendidikasikan mereka sebagai pahawan naional dan negara besar adalah negara yang menghargai pahlawan, kenapa justru kita tak memposisikan mereka sebagai teladan.
Sekali lagi kita terlalu sibuk mengintip aib orang lain dan terlalu sibuk mengumbar aib itu.
Mereka adalah orang yang sama sekali tak pandai dalam hal mengintip dan mengumbar aib. Mereka orang yang ahli dalam berkarya.
Jadi, kapan kita berkarya ?
Apakah karha kita hanya sebatas duduk terdiam menghujat kesalahan orang lain lalu menjadikannya pesakitan pembodohan ?
Bangsa ini adalah bangsa berkarya. Ironis orang-orang peng-karya negeri ini berakhir tragis dengan “dicolong” negara lain.
Momentum kelahiran Pancasila, sebagai tonggak mulai berkarya, tak pelulah mencari satu hari lain sebagai hari berkarya nasional dan memperingatinya setiap tahun dengan upacara di lapangan. Tapi cukup dengan proses sederhana, proses yang bisa dilakukan oleh semua pemuda, mulai sesederhana mungkin dan sekarang.
SEKARANG !
SEDERHANA !
Karena tak ada bayi yang langsung berlari (kecuali atas kehendak Allah), tapi dia menggerakkan kaki dulu dengan cara sederhana.
Inilah yang kronis menggerogoti dalam tubuh kita sebagai pemuda. Justru SEKARANG dan SEDERHANA untuk berkaya, malah dijadikan bahan perdebatan, mengenai segala kekurangan fasilitas, berdebat akan kurangnya perhatian pemerintah,  atas kebodohan para pemimpin hingga atas ketololan pemuda lain yang tak bergerak apapun. Hey bung, kenapa kau berpikir macam itu jika kau saja belum berkarya apapun ? apa tak malu sama kuman di tubuh kau itu ?
Jika pemerintah yang diatas sana belum baik, maka ini saatny belajar sebaik mungkin agar kelak bisa membaikan kepemerintahan yang belum baik. Jika sekarang pemerintah dibaikan oleh saran tapi tetap tutup telinga, ini saatny koreksi, apakah saran itu terlalu aneh, ataukah saran yang kurang matang, dan perubahan tak terjadi seketika. Bung, jika yang kau lihat belum baik menurutmu, maka masuklah kesana dan baikanlah itu sebaik kamu.  Dengan berkarya, bukan dengan pengumbaran aib.
Maaf, jika contoh yang disajikan ini aak “nyekit”
Seorang paman berbicara dengan sangat energik di sebuah pangkalan ojek. Jangan tanya, paman ini belum lama lepas dari jabatan mahasiswa abadi di kampusnya. Luar biasa dia mempublikasikan segala ilmunya atas pemerintahan, pendegarkan yang beberapa tukang becak dan beberapa kuli bangunan dan disusul beberapa tukang ojek kontak terpesona dengan penuturan yang paman yang saat ini bangga bestatus sebagai pengangguran sukses.
Kali ini sang paman menceritakan betapa bodohnya pemerinta, betapa banyak kesalahan yang dibuat dan betapa leletnya pemerintah. Tak hitung berapa kali dia berceramah atas kebobrokan pemerintah dan hebatnya diapun “mejelekan” negerinya sendiri.
Om, lok negeri n pemerintah belon baek, ente kemane aje ?
Secara empiris, inilah yang banyak menghantui kita dan sering kali kita menjadi “tokoh” sang paman dan kita merasa diri kita pahlawan. Ya tentu, tentu seorang pahlawan, yang berhasil mejerumuskan martabat negeri sendiri, luar biasa hebat.
  Sudahlah, tulisan ini tak perlu pengakuan. Tapi negeri ini jelas butuh karya dari para pemuda. Cukuplah isi waktu dengan berkarya. Emang gak gampang ngejalaninya, tapi dengan niat ikhlas insya Allah tahun ini kita bisa berdikari.
Gak gak gampang, sulit, bukan berarti tak mungkin.

Semoga dalam berkarya kita selalu memposisikan diri dalam angka nol dan Allah dalam satu, hingga hasil tak hingga bisa Allah amanahkan pada kita. Amin.

0 comments:

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html www.lowongankerjababysitter.com www.lowongankerjapembanturumahtangga.com www.lowonganperawatlansia.com www.lowonganperawatlansia.com www.yayasanperawatlansia.com www.penyalurpembanturumahtanggaku.com www.bajubatikmodernku.com www.bestdaytradingstrategyy.com www.paketpernikahanmurahjakarta.com www.paketweddingorganizerjakarta.com www.undanganpernikahanunikmurah.com

Posting Komentar