Selasa, 16 Agustus 2011

Dzikir sosial. Menyambut 66 tahun kemerdekaan RI dibungkus dengan hari 17 ramadhan.


 Kemenangan yang gilang gemilang. Setidaknya rangkaian kata itulah yang kelak melahirkan sebuah negara besar yang orang menyebutnya Sriwijaya sekaligus pada masanya sebagai salah satu dari sedikit negara didunia yang memiliki angkatan laut paling ditakuti dan paling mematikan.
Tak hanya sampai disitu. Tanah nan kaya ini tak lama kemudian melahirkan Singasari,kerajaan yang justru didirikan oleh seorang maling, yang saat bosan mencuri diapun merampok. Pemuda itulah yang juga berhasil membunuh Mpu Gandring dan Tunggul Ametung serta mengawini Ken Dedes. Konon Ken Dedes adalah perempuan tercantik saat itu dan dari “guo garbonya” lahirlah raja-raja tanah jawa dikemudian hari. Seorang maling yang diduga titisan dewa bernama Ken Arok.
Sepeninggal Ken Arok oleh pembunuhan, lahir Majapahit dengan segala kemegahannya. Bahkan seorang patih bernama Gajah Mada berani bersumpah dihadapan ratu Jayawisnuwardani Tribuanatunggadewi tentang penyatuan nusantara dibawah panji Majapahit. Karir Gajah Mada semakin gemilang dengan diangkatnya Raden Tetep putra Tribuanatunggadewi sebagai maharaja berjuluk Hayam Wuruk maka Gajah Madapun naik pangkat menjadi maha patih. Sayang sejenak adanya perang bubat, sang maharaja memecat sang maha patih, dan sejak itu tak ada lagi kabar tersurat mengenai keberadaan dan kehidupan sang mantan maha patih.
Kebesaran tanah nusantara tak lumpuh hanya dengan runtuhnya Majapahit. Sultan Agung bahkan berhasil membuat keturunan Gengis Khan bergetar hatinya. Padahal seluruh manusia di dunia tahu seperti apa sepak terjang sang penguasa separuh bumi itu, keberanian dan keberhasilannyapun diturunkan pada anak cucunya.

Lepas dari Belanda dan Jepang serta seluruh kisah kelam dibaliknya, tanah nusantara ini menjelma sebagai sebuah negara elok dan ramah. Dan sebongkah tanah yang dibuang dari surga ke dunia itu bernama Indonesia.
Sejarah panjang atas perjalanan negeri ini tak lain adalah ilmu yang sedikit demi sedikit diturunkan pada manusia penghuni tanah ini. Tak ada tujuan lain selain agar dapat mengelola kekayaan ini dengan bijak. Masih adakah orang didunia yang menginkari atas kekayaan negeri ini ?
Kekayaan yang demikian melimpah sangat tak mungkin jika dikelola serampangan tanpa ilmu dan tanpa iman.
Segala cobaan bahkan bencana dan musibah bukan brarti Tuhan akan membunuh satu persatu dari penduduk negeri ini, tapi adalah upanya-Nya memberi pendidikan akan pentingnya belajar dan mengelola alam, sehingga menumbuhkan kejayaan dan kebaiakan atas seluruhnya. Tuhan selalu punya rencana, namun kita kadang terlalu sok tahu atas rencana Tuhan itu.

Detik ini, dihari bulan ramadhan, 17 agustus bertepatan dengan 17 ramadhan, tak bisa kita temui setiap saat, bahkan mungkin hanya bisa kita temui setiap 66 tahun sekali, di masa mendatang bukan jaminan kita akan menemui momen ini lagi dengan keadaan tubuh masih bernyawa. Momen suci dan keramat ini tak boleh hanya di sia-siakan dengan kegiatan amburadul tanpa toleransi waktu, haram jika momen ini hanya terbuang dalam kotak sampah bernama hujatan, dan berdosa jika momen ini hanya terbakar dalam amarah membenarkan diri sendiri.
Secara general kita belum siap menjadi negara besar dan maju. Ada dua opsi dalam hal ini. Pertama karena memang Tuhan belum mengijinkan kita menjadi negara besar, opsi kedua karena kita terlalu bodoh dan belum mumpuni sebagai insan atas penyambutan sebagai negara besar. Takdir yang menentukan, tapi ingat takdir bisa diubah atas usaha dan doa.
Jika memang ingin negara ini tumbuh sebagai negara besar, kenapa justru tabiat kita memberi kesempatan negara ini semakin terjerumus dalam uruasan-urusan yang mengkerdilkan ?
Sekali lagi referensi sejarah. Apakah Prabu Airlangga mengkerdilkan Jenggala sebagai bentuk pecahan atas negaranya ? Apakah Sunan Ampel mengkerdilkan Radeh Fatah untuk menyiapkannya sebagai raja pertama Demak Bintoro ?
Cukup dari kedua pemimpin tersebut dapat kita tarik kesimpulan. Keduanya menggunakan kendaraan politik sebagai agen atas perubahan menuju kebaikan. Prabu Airlangga memecah kerajaanya jadi Kadiri dan Jenggala agar tak terjadi perang saudara antar kedua anak lelakinya dan Sunan Ampel mendidik Raden Fatah untuk mendirikan Demak Bintoro sebagai bentuk perubahan atas korupsi di Majapahit yang kian mewabah dan keamanan yang tak lagi bisa diandalkan.
Saatnya kita bercermin. Kini politik bukan sebagai agen untuk membaikan, justru politik hanyalah kursi empuk atas tujuan-tujuan pribadi, celakanya tak sedikit yang memanfaatkan politik hanya untuk menjatuhkan. Dalam tiap kemenangan pertandingan politik, si pemenang yang harusnya sebagai tokoh yang dihormati dan dihargai, justru berbalik sebagai tokoh punjer atas segala anak panah fitnah yang siap diluncurkan bertubi-tubi.
Kali ini bukan bahasan terhadap pemimpin. Biarlah pemimpin berurusan dengan Tuhan atas amanah yang dititipkan padanya.
Sebagai rakyat saja kita belum bisa memposisikan dengan baik. Kita selalu sok bisa memimpin, merasa bisa memimpin ujung-ujungnya mengumbar ceramah atas kebodohan sang pemimpin versi kita pribadi,dengan kata lain kita merasa lebih bisa dari orang yang kita lihat. Orang jawa menyebut ini ‘sawang sinawang’. Kita melihat sebuah urusan termasuk kepemimpinan secara datar, kasar, hanya permukaan, melihat itu buruk dan merasa dengan kehadiran kita sesuatu yang buruk itu akan baik, tapi justru dengan kedatangan kita segalanya semakin rusak. Terlalu banyak dan terlalu sering kita melakukan ini.
Tuhan memberi kita amanah sebaga rakyat, maka ini kesempatan kita jadi rakyat yang baik. Tak perlu kita harus jadi pemimpin untuk membaikan umat, jika sekarang kita rakyat dan bisa menjadi rakyat yang baik, kenapa tidak dilakukan ?
Rakyat yang baik bukan berarti yang hanya diam. Rakyat yang baik adalah yang beriman pada Tuhan, amanah terhadap tugasnya dan memberikan kebaikan untuk sekitarnya.
Sudah lelah negeri ini dengan hal-hal percuma. Kita memplokamirkan diri sebagai manusia beragama, dan sekali lagi hanya sebatas memplokamirkan. Apa jadinya negeri ini jika insan-insan intelek didalamnya sibuk mengagungkan dirinya sendiri? Apa jadinya negeri ini jika rakyatnya sibuk berceloteh ? apa jadinya negeri ini jika pemudanya hanya banyak menuntut ?
Momen 17 ini sebagai lahan koreksi bersama. Koreksi bukan berarti kita menguji kesalahan orang lain secara detail, tapi kembalikan pada pribadi masing-masing tentang apa yang telah diberikan, bukan apa yang selalu diminta. Memposisikan diri sesuai amanah Tuhan dan saling menguatkan sesama. Ingat, musuh mulai menyerang negri ini hanya kita sama sekali tak menyadarinya karena kita terlalu sibuk menggali kesalahan orang lain. Di sisi lain, justru kita tak punya andil apapun demi kebaikan bersama.
Terinpirasi dari syair penulis ternama negri ini :
“ jika tak mampu jadi pohon, maka jadilah rumput. Tapi rumput yang memperteguh tanggul jalan raya”
“jika tak mampu jadi jalan raya, maka jadilah jalan setapak yang mengantarkan orang pada sebuah mata air”

Ya Allah, kami hamba-Mu, duduk tersipu sayu dalam rangka menghitung kelemahan dan keterbatasan kami.
Ya Allah, didik dan tuntun kami untuk menerima amanah dan segala sesuatu yang besar dari-Mu. Tunjukan kami pada jalan-jalan yang engkau ridhoi.
Ya Allah. Lindungi negeri kami, para pemimpin kami, dan beri kami kemudahan untuk menerima segala ilmu dari-Mu.
Ya Allah, tak etis rasanya jika kami bersimpuh didepan-Mu hanya untuk meminta dan meminta. Kami sadar hanya pada-Mu-lah kami meminta, maka bimbinglah kami untuk berbuat kebaikan dan andil dalam membaikan ciptaan-Mu.
Amin.


1 komentar:

  1. Nice Info, thanx ya sob, lama tak berkunjung nih, Apa kabar?

    BalasHapus