Jumat, 30 September 2011

Meminang Pertanyaan Kesaktian Pancasila



Apakah belum cukup, kini negeri ini kembali tenggelam dalam hiruk pikuk kisruh DPR dan KPK. Saat masih SD, pelajaran Pancasila selalu mengajarkan untuk menghormati pemerintah dan seluruh perlengkapannya, macam mana jika lembaga pemerintah macam itu, apakah masih pantas dan patut dihormati ? dan apakah masih bisa dibenarkan di buku teks pelajaran Pancasila selalu menuliskan hal yang sama ?
Memang, tak ada salahnya jika mendedikasikan seluruh peristiwa memalukan ini sebagai salah satu langkah pendewasaan bangsa berkembang ke arah negara maju. Sudahlah, tak sudah berdebat tentang teori ini, karena hanya para negarawan hebatlah yang mampu mengiraikannya satu persatu. Tentu, uraian yang dimaksud hanya untuk orang-orang sejenis yang sama berotak encer. Lalu apa ceritanya jika rakyat ingin tahu menahu ? Apakah rakyat harus encer dulu otaknya ? jika iya, kenapa para “penggede” yang diatas sana hobi “nyunat” dana pendidikan. Ah mereka memang sama sekali tak berpendidikan.
Bahkan, negara Amerika pun paling tidak merevisi undang-undang dasarnya sebanyak 63 kali, dan kita baru berapa kali revisi UUD 45. Perbandingan ini tak bisa disalahkan, memang ada benarnya. Negeri ini masih dalam perjalanan menuju negara maju. Termasuk negeri ini memerlukan 45 biji peluru aktif untuk menjebol perut seorang koruptor dan penghasut.
Peringatan Kesaktian Pancasila. Erat kaitannya dengan G 30 S/ PKI dan tak perlu penjelasan lebih mendalam tentang ini. Namun, sejauh mana pemahaman anak bangsa atas momen tersebut.
Pahamkan anak bangsa tentang PKI ?
Pahamkan anak bangsa dengan angkatan kelima ?
Para jendral ?
Dewan jendral ?
Bahkan pahamkah anak bangsa dengan peristiwa penyulut ?
Ataukah sejarah masih dibungkam atas nama kekuasaan ?
Atau mungkin ada agenda dari pihak tertentu, agenda besar tentunya ?
Beberapa pertanyaan yang patut kita jadikan perhatian. Bukan hanya memperingat dengan upacara, lalu usai, lalu pulang ke rumah dan lupalah dengan hakikat peringatan dan tentu lupalah dengan apa itu kesaktian Pancasila.
Sudah cukup rasanya negeri ini dirundung kebodohan yang menjalar. Jika dulu hanya orang-orang kaya yang bisa menyekolahkan anaknya, lalu apakah sekarang orang miskin mampu menyekolahkan anaknya. Zaman boleh berbeda, tapi toh masalah tidak pernah tumbang, masih berkutat pada lubang yang sama.
Bosan rasanya melihat kebodohan. Dan sayangnya, kitapun masih terlalu bodoh. Lihat saja, kita masih selalu merasa lebih pintar dari pemimpin kita (jika memang lebih pintar kenapa gak loe aja yang jadi pemimpin), kita masih sibuk dengan urusan orang lain (padahal urusan sendiri terabaikan), kita masih girang menyodok orang lain dengan fitnah dan hasutan (kamu pikir kamu siapa fitnah orang, sok pinter banget ceh loe).
Sedikit share dari satu kali perjalanan. Melewati kampung dengan kepadatan luar biasa, mau lari aja susah. Sempit bin sumpek. Tapi luar biasa, kagak ada orang miskin disini (penglihatan mata), semua rumah dari beton, bagus, berbagai macam bentuk, kreatif, bersih dan tentunya mewah. Masah rumah di gang sempit macam gini tongkrongannya BMW, dimana lewatnya pikirku ?
Kebetulan saat itu jam sekolah. Heran, kok anak-anak orang kaya neh kagak sekolah.
“loh dek kenapa gak sekolah ?” tanyaku.
“sudah selese kak” udah lulus.
“lulus SD ?” aku penasaran.
“He’em” jawabnya lugu dan langsung melengos kembali kejaran sama teman-temannya.
Usut punya usut. Mind set n kebudayaan dikampung nan kaya raya ini, memang sama sekali tak memperhatikan pendidikan. Bahkan dengan sesumbar para orang tua berani bersumpah bahwa pendidikan gak penting. Ketimbang anaknya disuruh sekolah, mending diajak dinas….tau kah apa yang mereka sebut “dinas ?”
Dinas = mengemis.
Wow….luar biasa. Ngemis coy…tongkrongannya BMW mewah bin keren. Rumah gedongan, makan mewah, gaya hidup jet set, pantang melarat coy. Wow…wow…wow.
Ah pengemis macam mereka hanya pengecut tak bernyali. Hanya menyembunyikan muka saat meminta-minta, gak berani pasang tampang. Kan perbuatan hina ini justru menurunkan pengemis yang asli, akibatnya orang beralam mulai gak percaya jika mau kasih amal ke pengemis. Padahal diluar sana masih banyak pengemis asli yang asli se asli-aslinya butuh uluran tangan. Tentu bukan orang-orang hina seperti disebutkan diatas.
So, momen kesaktian Pancasila, mewajibkan, mengharuskan dan mendarmakan kita musti sakti sekarang dan saat ini. Ingat dan lihat, penjajah saat ini masih berkeliaran di sekitar kita, raga memang merdeka, tapi apakah kedaulatan kita merdeka dan segala macam tekanan dan hasutan.
Kesaktian Pancasila, bangsa Indonesia harus sakit. Titik, harga mati.

0 comments:

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html www.lowongankerjababysitter.com www.lowongankerjapembanturumahtangga.com www.lowonganperawatlansia.com www.lowonganperawatlansia.com www.yayasanperawatlansia.com www.penyalurpembanturumahtanggaku.com www.bajubatikmodernku.com www.bestdaytradingstrategyy.com www.paketpernikahanmurahjakarta.com www.paketweddingorganizerjakarta.com www.undanganpernikahanunikmurah.com

Posting Komentar