Minggu, 19 Februari 2012

Hukum mati koruptor, pantaskah ?

Satu ketika ada dikusi tentang hukuman yang pantas untuk koruptor (sudah sangat sering diskusi dengan topik ini diadakan, tapi ujung-ujungnya hanya sebatas). Topik yang klasik saya pikir, karena toh setajam apapaun diskusi yang dilakukan, apa manfaatnya jika hanya berakhir sebagai catatan notulen.

Adalah hukuman apa yang pantas bagi koruptor ?
Apakah koruptor juga berarti pembunuh ?
Sudah lah ngelanturnya, sekarang kita fokus ke topik.

Gembar-gembor sudah sampai kemana-mana, dan semua juga sudah paham, atas dana yang dikorupsi mengakitbatkan rakyat semakin susah, makan aja susah apalagi beli baju, kriminalitas meningkat hanya demi urusan perut, dan harga nyawa manusia demikian sangat murah. Inilah yang dialami rakyat (karena saya juga rakyat) yang terdzolimi atas penguasa yang koruptor. Sungguh kecewa hati rakyat atas orang yang kita pilih demi kebaikan dan harapan, justru menyakiti dengan cara yang sangat klasik, korupsi. Tak adakah cara lain yang lebih bisa menyakiti hati rakyat selain korupsi ? Ah sungguh sangat tak kreatif ?

Sebagai rakyat, yang diketahui hanyalan permukaan saja atas gunung es korupsi. Ok, kita belah sedikit dan mengintip apa yang terjadi dalam gunung es dari satu ilustrasi.
Nurbuat, seorang sarjana fresh graduate jurusan sosial politik. Dia sudah mafhum urusan sosial dan politik sebuah negara dari buku-buku dan pelajaran yang dia dapat. Politik dan kehidupan sosial menurut sudut pandangnya tentu sesuai dengan buku-buku yang selama ini dia lahap dan teori-teori yang dikemukakan para ahli. Tapi realita tak selalu presisi dengan teori bahkan rumus.

Ia pun memutuskan mencalonkan diri sebagai wakil rakyat atas dorongan, motivasi (baca desakan) dan iming-iming dari sang pemimpin partai. Nurbuat pun terlena dan tergoda, terlebih ia tak perlu mengeluarkan uang sepeserpun untuk menggelontorkan niatnya.
Walhasil, Nurbuat yang sarjanapun menang dalam pemilihan. Dan kini sudah setahun ia “mengabdi” untuk rakyat.


Semula ada ide untuk menulis tentang topik diatas. Tapi, niat ini harus dibatalkan karena :
1.    Menulis tentang korupsi, berarti membeberkan skenario setan dan akan dibaca oleh pembaca, otomatis pembacapun ikut-ikutan belajar skenario setan,
2.    Berbicara tentang koruptor, menulis dan membaca saja bikin hati gerah, bikin emosi meledak-ledak, tapi hanya melahirkan dosa, bukankah lebih baik energinya disimpan untuk berdoa dan menulis/ melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat,
3.    Menulis tentang koruptor, hanya akan menambah pustaka tentang koruptor. Tapi toh koruptor dinegeri ini gak berkurang,
4.    Koruptor sama sekali bukan hal terhormat (saya tak berani menyebut koruptor sebagai spesies manusia atau bahkan makhluk), jadi untuk apa mengalihkan ide untuknya.
5.    Be Smart Be Positif, waktu yang diberikan pada kita detik ini akan sangat lebih bermanfaat jika diinvestasikan untuk hal yang memberi kemanfaatan bagi orang lain. 

Baca juga koleksi artikel serupa, disini

1 komentar:

  1. Menurut saya pandangan saya sebagai orang,hukuman mati kurang tepat. Menurut saya kenapa tidak dimiskinkan saja,harta yang diambil dengan jalan tidak halal(Korupsi)lebih baik disita dan dikebalikan kepada negara untuk kepentingan rakya..:-)

    BalasHapus