Minggu, 12 Februari 2012

Kewajiban Membuat Makalah Sebagai Syarat Kelulusan Mahasiswa

Syarat kelulusan S1/S2?S3 kini diangkat ke publik dan mulai banyak pihak yang membicarakan ranah pendidikan ini.Terkait dengan surat dari DIKTI tertanggal 27 Januari 2012 yang menyatakan syarata kelulusan sarjana/ magister/ doktor harus membuat makalah yang terbit pada jurnal ilmiah terhitung kelulusan sejak Agustus 2.12 mendatang. Kontan kebijakan ini memicu pendapat dari berbagai pihak.
Dikutip dari AntaraNEws (4/2), Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia Edy Suandi Hamid.


"Persyaratan yang tertuang dalam Surat Dirjen Dikti Nomor 152/E/T/2012 tentang Publikasi Karya Ilmiah untuk program S1/S2/S3 yang merupakan salah satu syarat kelulusan yang berlaku mulai Agustus 2012 itu patut mendapatkan apresiasi, tetapi tidak realistis," katanya di Yogyakarta, Sabtu. Menurut dia, untuk saat ini persyaratan tersebut tidak membumi, karena tidak sesuai dengan daya dukung jurnal di Tanah Air. Seandainya dari lebih 3.000 perguruan tinggi negeri dan swasta di Tanah Air setiap tahun ada 750.000 calon sarjana, maka harus ada puluhan ribu jurnal ilmiah di negeri ini.

"Seandainya di Indonesia saat ini ada 2.000 jurnal, dan setiap jurnal terbit setahun dua kali, yang setiap terbit mempublikasikan lima artikel, maka setiap tahun hanya bisa memuat 20.000 tulisan para calon sarjana," kata Edy yang juga Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta ini. "Meskipun kewajiban itu baru akan berlaku setelah Agustus 2012, tetap sulit dipenuhi. Hingga Oktober 2009 menurut Indonesian Scientific Journal Database terdata sekitar 2.100 jurnal yang berkategori ilmiah yang masih aktif. Dari jumlah itu hanya sekitar 406 jurnal yang telah terakreditasi," katanya.

Sementara dari Republika (9/2) menerangkan tentang anggota komisi X DPR RI Rohmani mengkritisi kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengenai karya ilmiah untuk mahasiswa S-1, S-2, dan S-3 sebagai syarat kelulusan yang akan berlaku mulai Agustus 2012.

"Kebijakan itu masih prematur," katanya di Jakarta, Kamis. Menurut Rohmani kebijakan tersebut tidak melihat realitas dunia perguruan tinggi di Tanah Air.

Kebijakan ini memang tidak ada salahnya dikaji ulang, terlebih dalam surat resmi DIKTI disebutkan negara tetangga sebagai salah satu literasi. Berikut disajikan screnshot surat DIKTI yang diunduh dari situs remis DIKTI, klik disini  jika ingin mengunduh dalam bentuk pdf.

Dari beberapa obrolan sesama mahasiswa (S1), kebanyakan masih belum tau tentang kebijakan ini. Banyak diantara teman-teman angkatan 2008 yang nguber target lulus semester ini atau paling tidak tahun ini. Beberapa bahkan kebingungan jika harus menulis makalah seperti yang disyaratkan, namun disisi lain pun juga ada teman-teman mahasiswa yang mulai ambil ancang-ancang untuk melaksanakan penulisan. Ini hal yang wajar munculnya dua kubu pro dan kontra atas sebuah kebijakan.

Pendapat lain yang muncul dari kalangan mahasiswa, ini hanyalah akal-akalan semata untuk mengurangi ruang gerak mahasiswa terutama kaum aktifis. Penulisan makalah ilmiah bisa berpotensi mengurangi waktu yang biasa digunakan untuk berorganisasi.

Be Smart, Be Positif
Bukan berarti sebagai pendukung kebijakan. Karena masih terlalu dini jika mengatakan mendukung atau menolak, toh kebijakan DIKTI tersebut masih perlu dikaji lagi. 

Jika kita pahami lebih mendalam, kebijakan tersebut memang ada baiknya, salah satunya meningkatkan daya saing dengan negara tentangga. Jadi, tak ada salahnya pula kita berada pasa posisi siap, siap terhadap segala kemungkinan, kemungkinan atas di”ketok”nya kebijakan tersebut dan kemungkinan pembatalan. Meskipun kebijakan ini “dibatalkan” toh tetap gak ada salahnya kita menulis makalah yang terbit dalam jurnal ilmiah. Kembalikan pada posisi pribadi masing-masing, yang berkeinginan menulis makalah silakan menulis, namun dengan dasar dan niat sebagai kebutuhan pengembangan diri, bukan atas paksaan dari sebuah kebijakan.

Mengenai waktu yang termakan dan aktifitas keorganisasian terbengkalai. Kembaliakan pada pikiran positif kita dan kemampuan analisa sebagai seorang mahasiswa. Jika “kesempitan” semakin merajalela, tibalah saatnya idealis dibuktikan, sejauh mana kemampuan sebagai mahasiswa atas keadaan atau permasalahan yang terjadi. Apa jadinya dengan permasalahan bangsa ini jika para mahasiswanya tak mampu menyesaikan masalahnya sendiri ? Bahwa Tuhan memberikan waktu 24 jam sehari adalah cukup dalam ukuran manusia, Tuhan sudah memiliki parameter tentang ini.

Kebijakan yang baik akan baik pula pelaksanaanya, justru yang sangat mengecewakan justru jika kebijakan yang baik diselingi dengan niat kurang baik dari beberapa pihak. Kita doakan semoga ini demi kebaikan bersama.

Koleksi Artikel serupa, klik disini

0 komentar:

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html www.lowongankerjababysitter.com www.lowongankerjapembanturumahtangga.com www.lowonganperawatlansia.com www.lowonganperawatlansia.com www.yayasanperawatlansia.com www.penyalurpembanturumahtanggaku.com www.bajubatikmodernku.com www.bestdaytradingstrategyy.com www.paketpernikahanmurahjakarta.com www.paketweddingorganizerjakarta.com www.undanganpernikahanunikmurah.com

Posting Komentar