Selasa, 28 Februari 2012

Titik Nadir Perubahan Iklim Sesi 2 : Kemurkaan Para Raja & Konflik Manusia

For english version, click here

Padasesi 1 kita sudah sedikit banyak membahas tentang keruntuhan kota-kota besar didunia yang menyalahi keseimbangan alam. Semegah apapaun sebuah kota jika menciderai keseimbangan alam, maka tak akan berkutik jika alam memperlihatkan kekuatannya.

Dalam sesi ini kita lebih banyak membicarakan tentang hubungan sosial.
Dalam keadaan serba terhimpit oleh perubahan iklim, hal pertama yang terjadi dan paling ditakuti adalah fenomena kekurangan pangan. Selain karena bahan makanan tidak tumbuh dan panen seperti harapan akibat perubahan habitat tumbuh tanaman, juga lahan pertanian yang “dirampok” oleh kebutuhan perumahan dan industri.


Kebutuhan lahan perumahan yang merampok lahan pertanian secara jangka pendek menyebabkan penyerapan air tanah berkurang drastis. Dipermukaan, hal ini menyebabkan banjir namun jauh didalam tanah mengakibatkan debit sungai bawah tanah berkurang. Praktis, kebutuhan air bersih meningkat namun tidak diimbangi dengan volume air tanah.

Air tanah juga bermanfaat pada kestabilan kontur tanah. Jika air tanah berkurang tak jarang banyak terjadi longsor dan amblas di berbagai belahan, terutama didaerah perkotaan.

Permbukaan lahan industri sebagai sebuah simalakam. Jika tidak diperluas dan dikembangkan, kebutuhan industri akan mencapai tahap defisit antara kebutuhan dengan hasil produksi. Namun jika ditambah, lagi-lagi lahan pertanian bahkan hutan akan “dirampok”. Hutan sebagai salah satu penyangga keberadaan air bersih harus terlunta-lunta mempertahankan hidupnya, lagi air bersi terancam keberadaannya. Hutan bukan hanya sebagai habitat satwa dan bermacam fauna serta mengandung manfaat yang luar biasa namun sekaligus sebagai sasaran empuk atas pengembangan industri dan kebutuhan papan/ pemukiman. Hutan Indonesia rusak 1,8 hektar per tahun.

Bukan pilihan bijak jika hanya menghujat salah satu sisi dari berbagai permasalahan tersebut. Karena ujung pangkal dari semuanya kembali pada manusia, seberapa serakah manusia memenuhi kebutuhan nafsu. Inilah yang kemudian memecah kemurkaan para raja dan menimbulkan konflik manusia.

Kemurkaan Sang Raja
Adalah raja hutan. Banyak diberitakan diberbagai media masaa tentang para raja hutan yang mulai berkunjung di teritori (perkampungan) manusia. Tujuannya simple, sang raja hanya ingin mencari makan dan mengamankan teritorinya. Karena bagaiamanapun manusia sudah merampas wilayahnya.
Sudah banyak korban dari pihak manusia atas serangan sang raja. Namun justru dari pihak sang rajalah yang kalah telak, mereka lebih banyak mati ditangan manusia.

Harimau sumatra. Dikabarkan memakan manusia, disusul dengan kabar seekor lagi terjerat jebakan manusia dan akhirnya mati serta banyak berita lain yang menyebutkan sang raja hutan ini masuk perkampungan manusia. Pada 1978 harimau ekor menyisakan populasi sebanyak 1000 ekor, namun menyusut menjadi hanya 300 ekor setelah 32 tahun (2010).

Semurka apapun sang raja hutan ini. Tetaplah mereka kalah ditangan manusia. Bagaimana tidak, dari beberapa hasil penelusuran beberapa lembaga pemerhati satwa. Perburuan terhadap raja hutan belum usai sapai kini meskipun sudah ditetapan sebagai satwa dilindungi oleh negara dengan berbagai peraturan. Bahkan dalam satu kali berburu, bisa menerjunkan hingga 21 pemburu.

Bagan tubuh sang rajapun diperjual belikan. Baik untuk alasan hiasan, kebutuhan sebagai bahan obat. Tragisnya, kuku dan bagian tubuh lain dari sang raja yang dinilai berharga, diperjual belikan di toko emas. Legal ? Tentu saja tidak, tapi komesialisasi macam ini yang dijual ditoko emas, sudah merupakan indikasi terbukanya pasar. Jika pasar sudah terbuka, artinya kebijakan pemerintan atas perlindungan pada sang raja mutlak tak berlaku, hanya sebatas peraturan.

Beberapa satwa lain yang senasib dengan sang raja antara lain :
  1. Orang utan
  2. Komodo
  3. Anoa
  4. Badak jawa
  5. Kura-kura berleher ular
  6. Penyu hijau
  7. Ikan pari hiu
  8. Ikan gergaji bergigi besar

Sama sekali tidak ada salahnya kita berperan aktif dalam rangka penyelamatan populasi sang raja dan rekan senasibnya. Setidaknya, bisa sedikit meredam kemurkaan sang raja. Sangat tak bisa dibayangkan jika sang raja menyelesaikan masalah ini dengan caranya sendiri terhadap manusia.

Konflik Manusia
Konflik manusia lahir secara simetris dengan kemurkaan sang raja. Jika sang raja murka atas teritorinya yang “dirampok” manusia, sebenarnya adalah refleksi dari konflik antar manusia secaa bertahap.

Teritori sang raja yang meliputi hutan dan sumber daya lain didalamnya, jika sudah terebut dan dikuasai manusia bukan tidak mungkin sumber daya air lenyap. Bahan pangan menipis dan sungai-sungai kering.

Beberapa manusia yang mungkin masih memiliki cadangan bahan makanan, akan menjaganya mati-matian dan bahkan  membunuh siapapun yang menganggunya. Atas lenyapnya sang raja sebagai penjaga hutan dan lenyapnya hutan berubah menjadi lahan industri dan perumahan, maka lenyaplah pula sumber daya penghasil pangan. Lalu apa yang akan menjadi bahan baku industri ?

Letak perubahan iklim adalah sebagai pemicu atas seluruh masalah yang merembet dibelakangnya. Perubahan iklim merubah tanah yang dulunya subur dan sebaga lahan persiapan pangan menjadi lahan tandus. Merubah hutan menjadi gurun atas pemanasan suhu yang luar biasa, dan perubahan iklim merubah habitat hidup satwa dan fauna.

Bersambung ke sesi berikutnya.
Baca juga koleksi artikel serupa, klik disini


0 comments:

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html www.lowongankerjababysitter.com www.lowongankerjapembanturumahtangga.com www.lowonganperawatlansia.com www.lowonganperawatlansia.com www.yayasanperawatlansia.com www.penyalurpembanturumahtanggaku.com www.bajubatikmodernku.com www.bestdaytradingstrategyy.com www.paketpernikahanmurahjakarta.com www.paketweddingorganizerjakarta.com www.undanganpernikahanunikmurah.com

Posting Komentar