Minggu, 11 Maret 2012

Fakta dibalik kenaikan BBM

Gambar ilustrasi dari nugaroblog.blogspot.com
Beberapa aliansi mahasiswa mulai menggelar aksi menentang kenikan harga bbm. Sementara pada pedagang dipasar mulai resah kehilangan pembeli dan para ibu rumah tangga kalang kabut bersiap atas kenaikan harga segala kebutuhan pokok.

Sepertinya hal-hal tersebut rajin terjadi setiap muncul wacana atau bahkan realita kenaikan harga bbm. Bahkan daya beli masyarakat turun setelah kenaikan harga bbm. Sekali lagi kejadian ini rajin terjadi. Tapi toh ujung-ujungnya bbm naik juga seakan tak bisa terbendung.


Buan ciri khas blog ini jika hanya menghujat tanpa solusi, bikin dosa. Dalam pembahasan kali ini lebih mendalam ketimbang hanya menghujat dan menjatuhkan sesama. Karena seperti apapun jika kita menghujat, bbm tetap akan naik. Udah dosan, bbm naik lagi, rugi dua kali.

Kampanye terselubung menjelang 2014
Nah semua paham pada 2014 negara kita punya gawe apa, tak usah diabahas lah, toh ujung-ujungnya kita-kita disodorin amplop buat ngejual suara. Dalam kaitan kenaikan bbm yang sekarang tengah memanas, beberapa pihak mensinyalir ini sebagai kampanye terselubung menjelang gawe 2014.

Jika bbm dinaikan, maka pemerintah akan membagikan uang gratis yang disebut BLT. Otomatis BLT naik pamor dan pemerintah kembali “dipuja” rakyat, terutama  rakyat penerima BLT dan orang-orang yang dekat dengan BLT.

Satu pernyataan yang bisa diterima akal. Namun jauh dari adanya BLT atau tidak, tetaplah rakyat butuh makan. Apakah harus terulang lagi adanya rakyat yang mati kelaparan dinegeri yang kaya raya ini ?

Hanya akal-akalan pengalih isu
Wow. Berita di segala media masa banyak menampilkan betapa para petinggi dinegara ini terjerat kasus korupsi. Mulai dari yang benar-benar berkorupsi, atau yang hanya didzolimi dengan dilempari kasus korupsi. Bagi rakyat, apapun itu, tetaplah koruptor.

Rakyat tak pernah tau fakta apa yang terjadi dibalik semua fakat dalam berita. Rakyat hanya tau sebatas permukaan. Dan rakyat tak pernah mendapat berita berimbang sehingga opini dan idelisme rakyat terpontang-pantingkan oleh para bos pemilik media.

Termasuk kenaikan harga bbm, ada pihak yang mensinyalir ini sebagai akal-akalan beberapa pihak yang ingin mengalihkan isu-isu korupsi yang kan memalukan dan menjijikan. Semakin hari makin banyak saja kasus korupsi. Seakan tak ada habisnya, apa memang mumpung jadi orang “atas” lantas berkrupsi ria ? bahkan tahun 2011 ditutup dengan kasus korupsi. Nah, terpaan angin kenaikan bbm dirasa tepat diluncurkan sekarang dan saat ini.

Imbas kenaikan minyak global
Kali ini Iran yang jadi bulan-bulanan ditudu habis-habis sebagai biang kerok kenaikan minyak global. Hey, kenapa dengan Iran, ada apa dengan Iran ? perkara mereka dapat boikit tak boleh mengeskpor minyak atas kebijakan nuklir, itu kan kebijakan mereka, itu kan keadaan dalam negeri mereka, urusan mereka. Kenapa kita ikut-ikutan latah ? bukankah negeri nan kaya ini memiliki minyak yang cukup untuk kebutuhan dalam negeri ? perkara Iran kagak mau ekspor minyak mah kagak ngaruh ?

Agar rakyat tidak manja dengan subsidi
Hey, hey, hey. Bahkan Allah berfirman, segala sesuatu tentang api dan air harusnya gratis bagi kepentingan rakyat. Segala sesuatu tentang api termasuk yang bisa menyalakan api, minyak.

Subsidi saja sebenarnya sudah menyelahi aturan, apalagi ngejual minyak pada rakyat.

Subsidi salah tembak
Ya, kebanyakan pamakai bbm adalah orang-orang kaya yang punya banyak mobil. Rakyat enikmati bbm hanya dan jika hanya menikmati fasilitas tranportasi umum. Di negara ini lebih banyak penduduk yang tinggal di desa ketimbang di kota. Dan lihatlah penduduk desa, mereka hanya menikmati bbm jika bepergian saja, dan jarak tempuh mereka bepergianpun juga tak jauh.

Benar-benar menjijikan jika orang-orang kaya memakan dengan rakus subsidi yang bukan untuk mereka.

Be Smart, Be Positif
Sudah cukup rasanya mengumpulkan berbagai argumen dari berbagai sumber. Sekarang waktunya menentukan sikap. Termasuk mulai mempertimbangkan pentingnya bahan bakar alternatif selain BBM dan non fosil.

Kenaikan harga bbm, bagaimanapun sikap reaktif kita, sepertinya tak bisa mencegah, ujung-ujungnya naik juga. Merkipun memohon sekalipun dengan telanjang diperempatan sekalipun atau bergulat di panasnya jalan raya ditengah hari, sedikit sekali kemungkinan merubah keadaan. Karena kita tak tau fakta apa yang sebenarnya menjadi pemicu, yang kita tau selama ini hanya fakta yang mengarah pada argumen dan arah sebuah media masa. Sekali lagi, kita tak pernah mendapat yang menjadi hak kita, fakta berimbang da mutlak.

Sebagai rakyat, dikatakan sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, tapi sejauh mana kekuasaan kita sebagai rakyat. Sejauh nominal di amplop saat pemilihan ? seharga kaos kampanye ? seharga se-liter beras ? ah, apa artina kita teriak-teriak tapi dibalik itu semua toh kita “dimunafikan” dengan serangan fajar. Seakan kita terbungkam atas semua rasionalisme jika amplop sudah ditangan. Sudahlah akui saja ini, tak usah mengelak lagi karena ini sudah fenomena.

Memang tidak semua, tetapi sebagai orang terpelajar, terasa sangat miris dengan realita semacam itu. Kita yan habis-habisan memegang teguh idelisme, mati-matian mempertahankan keadilan, tapi lihat, berapa jumlah kita, dan lihat, ribuan rakyat jauh didesa dan mereka tidak berpendidikan, adalah yang memberi lebih banyak “amplop” yang mereka pilih. Luar biasa.

Kenaikan BBM akan berpengaruh pada kenaikan semua hal pokok, ini kita terima sebagai sebuah efek samping. Seperti halnya efek samping kenyang selesai makan. Kita syukuri ini sebagai satu hal ujian dari Allah untuk menaikan derajat kita.

Memang sangat sulit mensyukuri hal seperti ini, namun dengan bersyukurlah kita mendapat ketenangan. Siapa tau memang inilah salah satu jalan yang harus kita tempuh dalam rangka Allah mengangkat derajat. Bagaimanapun juga Allah memberi ujian bagi siapapun yang akan diangkat derajatnya. InsyaAllah di masa mendatang kita menjadi bangsa yang lebih bermartabat dan memiliki derajat yang baik didepan Allah. Amin.

Baca juga koleksi artikel serupa, klik disini

1 komentar:

  1. Bagus postingan Blog sampean. Informatif.

    Memang setiap pemimpin di Indonesia selalu diuji dengan masalah BBM. Apakah harus menaikkan BBM atau tidak. Kebanyakan masalah kenaikan BBM itu merugikan "wong cilik". Hingga membuat mereka kesulitan dalam ekonomi.

    Sebaiknya masalah BBM disikapi secara bijak. Jangan sampai adanya kenaikan BBM menimbulkan kesengsaraan bagi rakyat.

    Terima kasih.

    BalasHapus