Selasa, 06 Maret 2012

Titik Nadir Perubahan Iklim Sesi 3 : Konflik Berbagai Kebutuhan Primer



For english version, click here

Ini sangat berakitan erat dengan pola hidup manusia modern. Di saat seluruh kebutuhan primer harus dipenuhi dan harus mengorbankan asset kebutuhan lain. Bahkan peradaban tinggi suka Maya runtuh akibat kerusakan lingkungan.

Kebutuhan Papan
Kebutuhan akan perumahan, secara langsung menghabiskan lahan yang sejatinya harus digunakan dalam upaya pemenuhan pangan. Kebutuhan akan perumahan ini jugalah yang menyebabkan tanah tak bias lagi menyerap air karena sudah tertutup bahan bangunan. Air yang harusnya masuk kedalam tanah dan menjaga kestabilan permukaan tanah, akan mengalir percuma kembali ke laut dan tanahpun kehilangan kestabilan dan daya angkat. Akibatnya struktur bangunanpun akan banyak mengalami kerusakan karena pergerakan tanah yang terlalu besar.


Sementara semakin bertumbuhnya penduduk yang tidak diimbangi lahan yang mencukupi menjadi masalah pelik yang sulit diurai. Seperti banyak terjadi di negara berkembang, pertumbuhan penduduk yang terlalu cepat justru menambah kriminalitas dan rawan kekurangan pangan disamping setumpuk permasalahan lain.

Beberapa tahun belakangan, property vertical makin banyak diminati. Karena dirasa lebih hemat lahan. Memang lebih hemat lahan, namun keberadaan air tanah kembali di eksploitasi. Pembukaan lahan yang beralih fungsi untuk kebutuhan papan juga ikut andil dalam perubahan iklim. Oksigen dan suhu kondusif yang dihasilkan hutan tak bisa lagi dijumpai. Populasi flora berkurang, populasi fauna berkurang. Keseimbangan terganggu.

Dalam hal ini, bias diatasi jika suatu saat ditemukan teknologi yang memungkinkan rumah bias ditanami pohon. Bukan hanya rumah yang ramah lingkungan, tapi sekaligus bangunan yang berfungsi sebagai lahan pertumbuhan dan perkembangan flora atau bahkan fauna.

Ide tentang hal tersebut sudah pernah diungkapkan di Jepang. Orang Jepang mulai menanam tanaman di atas rumahnya dengan memanfaatkan atap sebagai lahan berkebun. Meskipun yang ditanam hanya tanaman hias, paling tidak ini sudah menjadi satu titik permulaan.

Kebutuhan Pangan
Hampir sama dengan kebutuhan papan, kebutuhan panganpun merampas lahan-lahan hutan demi pembukaan lahan pertanian.

Ini menjadi masalah klasik. Karena jika tak ada pembukaan lahan untuk pangan, maka bisa dipastikan akan terjadi kekurangan pangan. Namun jika memilih membuka lahan dengan mengorbankan hutan, maka akibatnyapun sulit dibayangkan.

Satu contoh, pembukaan dengan hutan sebagai korbannya. Maka beberapa species endemic akan punah, baik flora maupun fauna. Demikian halnya dengan sumber daya air bersih akan ikut punah. Sungai-singai yang sebelumnya mengalirkan air bersih akan hilang.
Bukankah manusia pada zaman dahulupun mampu bertahan hidup hingga usianya ratusan tahun hanya dengan mengandalkan sumber makanan dari hutan ?

Jika memang hutan sudah menyediakan banyak sumber pangan ? kenapa harus membunuh hutan ?

Pernah pertanyaan tersebut saya sampaikan pada beberapa mahasiswa dalam sebuah forum. Dan merekapun member jawaban yang beranka ragam. Beberapa diantaranya kontra dengan pertanyaan tersebut. Ia berdalih pada saat itu jumlah manusia tidak sebanyak sekarang sehingga sumber daya makanan dihutan sangat mencukupi untuk kebutuhan mereka pada saat itu. Berbeda dengan sekarang yang populasi manusia sangat luar biasa jumlahnya.

Memang bisa direnungkan, tapi apakah juga sudah merenungkan tentang fakta ikan dilaut yang tak pernah habis meskipun dalam sehari dipanen ribuan ton untuk konsumsi manusia.

Tawaran solusi yang bisa menghadapi masalah ini adalah dengan bahan makanan alternative. Tidak melulu makan beras, tidak melulu makan gandum. Tapi juga bisa makan ubi, kentang, atau jenis makanan lain yang bisa tumbuh subur dihutan tanpa pembukaan lahan.

Bisa juga dengan system penanaman ganda dengan lahan dihutan. Menanam komoditas pangan dibawah populasi hutan tanpa menganggunya, disamping mendapat manfaat organic juga mendapat manfaat nutrisi yang lebih komplek karena lahan tumbuh tanaman pada lingkungan yang komplek.


Kebutuhan Sandang
Kebutuhan akan sandang tak lepas dari industry. Industri sering dan masih saja menjadi biang kerok kerusakan lingkungan. Lihat saja tambang batu bara yang berhasil mengeruk dan meratakan gunung. Juga berhasil merusak ekologi hutan.

Disisi lain, kebutuhan sandang yang diakomidasi industry juga membutuhkan bahan bakar dalam kegiatan produksi.

Bahan bakar alternative dan industry etika lingkungan adalah satu-satunya jawaban.

Industri selain member kerusakan didarat, juga memberi kerusakan diudara dengan sampah asapnya, dan member kerusakan dilaut dengan limbahnya. Seluruhnya mengancam kehidupan manusia dalam urusan pangan dan kesehatan.

Baca juga koleksi artikel serupa, klik disini

0 comments:

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html www.lowongankerjababysitter.com www.lowongankerjapembanturumahtangga.com www.lowonganperawatlansia.com www.lowonganperawatlansia.com www.yayasanperawatlansia.com www.penyalurpembanturumahtanggaku.com www.bajubatikmodernku.com www.bestdaytradingstrategyy.com www.paketpernikahanmurahjakarta.com www.paketweddingorganizerjakarta.com www.undanganpernikahanunikmurah.com

Posting Komentar