Kamis, 08 Maret 2012

Titik Nadir Perubahan Iklim Sesi 4 : Alam Terganggu, Alam Menganggu

For english version, click here

Pada sesi 1, 2, hingga 3, kita sudah banyak membahas tentang pengaruh perubahan iklin terhadap kehancuran kota-kota besar didunia sepanjang sejarah, tentang pengaruh terhadap perekonomian dan segmen-segmena pada kebutuhan primer. Dan pada sesi 4 ini kita banyak membahas pada sisi alam.

Rasanya tak bosan-bosan berita di televisi maupun media massa lain yang memberitkana tentang bencana alam, apapun itu, dan bahkan kota-kota besarpun tak luput dari yang namanya banjir. Yang lebih menggelikan lagi, justru banjir zaman sekarang mulai berani memperluas jaringan hingga ke daerah-daerah yang bahkan selama berabad-abad tak pernah tersentuh banjir meskipun hanya sekali.


Jika sebelumnya manusia banyak menganggu kesimbangan alam, merusak alam dan membabi buta menggunakan kekayaan alam dengan serakah. Tak heran jika alam pada ujungnya membalikan keadaan dengan menganggu kehidupan manusia. Bahkan kali ini alam tak mau ambil pusing mana manusia yang salah dan mana manusia yang tak tau apa-apa. Semuanya dilibas, semuanya dihantam semuanya terseret dalam kemarahannya.

Satu contoh kecil saja, saat ini (saat artikel ini ditulis 08/03 jam 08.30 WIB) seantero Malang merata kota dan kabupaten tenga hujan sedang, bahkan hujan ini dumilau sejak tadi pagi sebelum subuh, hingga kini belum menampakkan tanda-tanda akan reda. Bahkan dibeberapa daerah di Lawang, Batu dan Singhasari tengah hujan deras. Hal yang sama juga berlaku di Pasuruan hingga Bangil dan sebagian Sidoarjo.

Dari hujan macam ini saja, perekonomian sudah sangat terganggu. Pedagang dipasar tidak menggelar dagangannya dengan optimal, para supir dan pekerja bidang tranportasi kekurangan penumpang namun disisi lain penumpang justru terlantar. Pelaku industry berbasis sinar matahari juga kalang kabut, termasuk pelaku industry kargo. Ini baru gerimis, bagaimana kalau banjirnya merata ?

Maklum, hujan terjadi pada musim hujan. Tapi toh sekarang karena alam sudah diciderai, bahkan hujan tak mengenal musim. Masih sangat erat dibenak kita, pada tahun 2010 kita memperoleh musim penghujan dengan masa yang lebih panjang, dan pada tahun 2011 kita sama sekali tak menemui musim kemarau. Gara-gara musim hujan berkepanjangan inilah, pemerintah dibuat gatal dengan serangan ulat bulu akut di Problolinggo Jawa Timur, pemerintah dibuat mual dengan melubernya lumpur lapindo. Termasuk rakyat menjerti atas ancaman kelaparan dibeberapa daerah atas akibat gagal panen. Praktis hujan berkepanjangan dengan intensitas tinggi mengakibatkan beberapa komoditas pangan membusuk sebelum masa panen, terserang hama dan mati akibat tidak mendapat asupan sinar matahari yang cukup.

Alam dengan caranya sendiri secara implicit “mengangganggu” kehidupan manusia. Bahkan dengan cara-cara yang mustahil. Kita ingat sejenak kembali ke tahun 2011 akhir. Disaat hujan sangat gencar mengacaukan rutinitas manusia. Akibat hujan yang rajin turun tiap pagi, sedikit banyak mempengarui pertumbuhan tomat di lading para petani didaerah pujon Batu Malang. Bahkan hal ini juga berlaku ditempat lain.

Akibatnya tomat tumbuh dengan sangat subur dan menggiurkan. Buahnya besar-besar dan ranum, bahkan satu pohon bisa sampai belasan buah. Tapi tepat pada masa panen, hamper seluruh petani tomat memanen komoditinya. Sekali lagi, harga tomat dipasaran hancur lebur, tomat nan indah dan ranum tak ada nilainya. Bahkan banyak petani frustasi dan membiarkan saja tanaman tomatnya disawah tanda dipanen. Dibiarkan begitu saja sampai tanaman tomat mongering dan membusuk sesuka hatinya. Pemandangan ini bisa Anda nikmati pada akhir 2010 saat perjalanan dari kota Malang ke Kediri via Pujon. Pemandangan yang kontras dengan hijaunya perbukitan putri tidur.

Jika dengan cara-cara yang sederhana alam tak mampu lagi menyeimbangkan keserakahan manusia yang terus merusak. Maka menjadi hal yang lumrah jika pada akhirnya ia memuntahkan kekuatan luar biasanya. Seperti pendekar yang bertarung, jika lawannya belum juga bisa dilumpuhkan, maka ia akan menggunakan jurus yang lebih tinggi dan tinggi hingga menggunakan jurus pamungkas.

Sejarah sudah mencatat betapa alam dengan kekuatannya berhasil “menganggu” manusia dan mengembalikan keseimbangan, berikut beberapa catatan sejarah dari berbagai sumber :

Cina’s Sorrow
Cina memang terkenal dengan Sungai Kuning/ Yellow River dan penduduk setempat menyebutnya Huang He. Bahkan peradaban tua di Cina lahir ditepian sungai ini. Berabad-abad sungai ini memberikan sumber penghidupan masyarakat setempat termasuk sebagai jalur tranportasi.

Pada tahun 1931 sungai ini meluap, menelan bahkan korban tewas mencapai 1 juta hingga 4 juta orang. Korban tewas sebanyak itu bukan berarti semuanya mati karena bencana banjir yang menghanyutkan. Tapi juga karena akibat pasca banjir, baik mewabahnya berbagai penyakit hingga kelaparan.


Banjir tersebut menutupi wilayah sejauh 88.000 km persegi dan 21.000 km persegi diluarnya ikut terkena imbasnya. Bencana ini hingga sekarang dikenal sebagai China’s Sorrow (derita Cina)

Gempa dan Tsunami Aceh    

Mengingatkan pada gempa Valdivia pada 1960, gempa Aceh pada kekuatan 9.3 hampir menyamainya. Gempa yang disusul tsunami ini menyapu sebagian Aceh dan menewaskan 230.000 jiwa.

Pasca gempa, penduduk asli Aceh yang selamat banyak yang mengkhawatirkan tentang budaya mereka pada generasi penerus. Mengingat banyak sekali para tetua dan pemegang budaya yang tewas. Hingga sekarang di Aceh banyak digalakan cinta budaya sebagai salah satu langkah menjaga kelangsungan budaya asli Aceh. Tentu sebuah budaya yang juga mengajarkan menghormati alam.


Letusan Gunung Vesuvius
Letusan gunung ini mematikan 25.000 nyawa. Termasuk kota Pompeii yang berada dibawahnya. Vesuvius memuntahkan perutnya pada 19 SM dan selama 20 jam tanpa berhenti. Terakhir Vesuvius meletus pada 1944.

Akibat letusannya, sebuah peradaban kuno terkubur, dan kini lahirnya peradaban baru. Namun peradaban Pompeii masih menarik banyak minat arkeolog sampai kini.

Berbicara tentang letusan gunung, mengingatkan kita pada Merapi yang mengubur peradaban Mataram Kuno, Krakatau yang menghapus peradaban penjajahan di Jawa Barat dan letusan Tambora yang melahirkan peradaban baru.

Beberapa contoh diatas bukan berarti menakut-nakuti. Tapi sebagai langkah memperluas wawasan kita dalam rangka saling menghormati dengan alam dan hidup berdampingan besama alam yang ramah.

Baca juga koleksi artikel serupa, klik disini
Sumber :   
- http://kadri-blog.blogspot.com
- http://iddailynews.blogspot.com

0 komentar:

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html www.lowongankerjababysitter.com www.lowongankerjapembanturumahtangga.com www.lowonganperawatlansia.com www.lowonganperawatlansia.com www.yayasanperawatlansia.com www.penyalurpembanturumahtanggaku.com www.bajubatikmodernku.com www.bestdaytradingstrategyy.com www.paketpernikahanmurahjakarta.com www.paketweddingorganizerjakarta.com www.undanganpernikahanunikmurah.com

Posting Komentar