Senin, 04 September 2017

Reposisi Keefektifan & Kerancuan SEO vs Paid Promotion Part 2 : Mangkok Yang Hampir Tumpah

Search Engine Optimization, Paid Promotion, Google Adword, Facebook Ads, Instagfram Ads, Mesin Pencari, Mengoptimalkan Mesin Pencari, Metode SEO, Belajar SEO,SEo Untuk Website

Search Engine Optimization, Paid Promotion, Google Adword
Perebutan tahta untuk menduduki rangking 1 di halaman mesin pencari, adalah tujuan dari upaya SEO. Yang namanya tujuan, tentu memerlukan strategi. Dan banyak sekali strategi untuk memenangkan kompetensi tersebut, kompetensi untuk menduduki tahta tersebut. Di mana web atau aset digital lainnya mampu bertengger di halaman pertama mesin pencari. Dan mesin pencari yang menjadi konsen akan hal ini adalah google.

Faktanya, di dunia ini tidak hanya google sebagai satu-satunya mesin pencari (search engine). Sehebat apapun cengkeraman google pada internet dan sebagaimanapun upaya google mengukuhkan diri sebagai yang nomor satu di dunia, tetap saja google bertekuk lutut dan tidak berdaya di daratan China. Dengan tegas orang-orang di negara itu menolak google yang mendirikan mesin pencari ala mereka sendiri yang mampu menandingi kehebatan google, dan mesin pencari bertajuk Baidu tersebut mampu mempertahkan peperangan abadinya dengan google, paling tidak sampai detik ini. Pun google juga senantiasa kudu bersiap dengan lawan head to head nya bahkan itu Bing, Yandex hingga Ask.

Fenomena Paid Promotion menjadi lahan basah baru, tentunya bagi vendor. Katakan saja Google dengan produknya yang disebut Google Adword, adalah salah satu produk google yang menyediakan ruang dan kemudahan bagi siapapun yang ingin beriklan. Fasilitas ini memungkinkan pengiklan akan menemui asetnya dihalaman pertama google, dan akan terus menerus berada di halaman pertama sekali saldo uang untuk iklan masih aman dan tentu dengan mengabaikan persaingan.

Demikian dengan Facebook. Perusahaan ini menerbitkan fasilitas periklanan yang dikenal dengan Facebook ads, dimana iklan yang di pasang akan tayang pada beranda tiap-tiap orang yang sesuai dengan target market. Ya, tentu, Facebook memang membaca data Anda dan data itulah yang kemudian di sikronisasi dengan fasilitas periklanan. 

"Janga dikira apapun yang Anda inputkan di social media itu adalah privasi, bukan, salah besar, Justru apapun yang Anda inputkan di sosial media adalah kefulgaran yang bisa dinikmati oleh siapapun. Standar jika kita mengatakan gender boleh diketahui publik, alamat rumah, umur, agama boleh diketahui secara publik karena memang kita menginputkannya secara jelas dan dengan sadar. Lalu bagaimana dengan minat ?"

Logika sederhana. Anggap saja Google, Facebook, Instagram atau apapun sebagai penyedia periklanan, adalah sebuah mangkuk. Nah, disaat ada sedikit pasir didalam mangkuk tersebut, maka sangat banyak ruang tersisa. Sehingga ruangan yang lapang ini mengundang banyak pasir lainnya untuk masuk ke dalam mangkuk, demikian seterusnya hingga mangkuk penuh dan bahkan tumpah.
Asumsikan, mangkuk adalah privider penyedia jasa iklan dan butiran-butiran pasir yang kecil itu adalah iklan yang di pasang. Maka semakin banyak butiran pasir, maka semakin penuhlah mangkuk tersebut hingga pada masa tertentu pun akan tumpah.
Search Engine Optimization, Paid Promotion, Google Adword

Kadang mengelitik mendengar cerita rekan-rekan yang memasang iklan. Ia mengatakan, dulu dengan anggaran sejumlah X mampu memasang iklan dengan jangkauan sekian, tapi sekarang sudah tidak, dananya harus X++ untuk bisa menjangkau jumlah yang sama, atau bahkan dananya harus X+++Y agar bisa memenangkan persaingan dengan kompetitor.

Inilah yang saya analogikan sebagai pasir. Semakin banyak pengguna iklan, maka akan semakin juga penawarn yang diberikan. Sebuah grafik pereonomian berlaku tangkas disini, dimana ada kebutuhan maka semakin tinggi pula penawaran. Boleh lah dulu Google, Facebook & Instagram memberi tarif ekonomis untuk iklannya, mengingat saat itu penikmati iklan belum banyak. Tapi sekarang cerita sudah berbeda, penikmati (baca : pemaikai jasa/ pemasang) iklan semakin bertambah, ruang semakin sesak. Sehingga perlu kekuatan lebih untuk tetap memenangkan persaingan.

Jika Google, Facebook & Instagram tidak memperbesar wadahnya. Maka justu akan terjadi persaingan luar biasa di kalangan butiran pasir, bahkan melakukan berbagai macam cara untk mendapatkan posisi iklan dan demi iklanya tayang. Tapi, siapa yang tau dan kapan tidak ada yang tau kapan dan ke arah mana para privider ini memperbesar mangkuknya, atau bahkan sengaja menyulut drama perebutan kekuasaan atas para butiran pasir ? Who Knows ?

Ingat, dalam beriklan tujuan utamanya adalah memperkenalkan produk/ jasa ke kalayak seluas-luasnya, sebanyak-banyaknya dengan anggaran yang sudah tertata dan anggaran yang sudah ada. Bukan anggaran yang diada-adakan. Tujuannya tentu untuk terjadi penjualan.
Sayangnya, konsep ini lebur dan hancur bersamaan dengan hilangnya idealisme marketer, yang semula gigih mendapatkan goal. Berubah, menjadi pejuang iklan yang memperbesar anggaran dananya, menyuntikan dananya demi iklannya tayang. Orientasinya bukan mendapatkan goal, tetapi orientasui memperbesar anggaran dan suntikan saldo untuk iklan.

Sindrom seperti itulah yang sangat dan perlu diwaspadai. Tujuan utama marketing adalah memperkenalkan produk/ jasa agar masuk ke dalam ranah psikologi konsumen sehingga produk/ jasa yang di-marketing-kan mampu menjadi variabel dalam penemuhan kebutuhan konsumen. Tujuan marketing bukan memperbesar anggaran iklan.

0 comments:

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html www.lowongankerjababysitter.com www.lowongankerjapembanturumahtangga.com www.lowonganperawatlansia.com www.lowonganperawatlansia.com www.yayasanperawatlansia.com www.penyalurpembanturumahtanggaku.com www.bajubatikmodernku.com www.bestdaytradingstrategyy.com www.paketpernikahanmurahjakarta.com www.paketweddingorganizerjakarta.com www.undanganpernikahanunikmurah.com

Posting Komentar