Sabtu, 14 Oktober 2017

Facebook Ads tak lagi BERTARING tak lagi BERGIGI Part 3 : Bukan BottleNeck Effect

Facebook Ads, Iklan Berbayar, Paid Promotion, Pemasaran Online, Iklan Di Facebook, Cara Iklan Di Facebook, Iklan Berbayar Di Facebook, Iklan Berbayar Terbaik, Iklan Online Yang Baik, Harga Iklan Di Facebook

Facebook Ads, Iklan Berbayar, Paid Promotion

Akan lebih baik Anda membaca tulisan ini dengan pikiran jernih, tanpa ikatan emosional apapun terlebih hanya sekedar merendahkan orang yang bisa jadi kepintarannya jauh melampaui Anda. Ini adalah analisa, bukan bermain perasaan.

Secara sederhana bottleneck adalah efek yang seperti halnya leher botol. Dimana input yang sangat banyak tidak mampu tertampung dengan baik oleh jalur yang disediakan, sehingga terjadi antrian yang lebih panjang dari normal bahkan antrian yang saling mengganggu. Keadaan ini berlangsung apabila jalur yang ada/ tersedia tidak mampu menampung seluruh input.

Namun, yang terjadi pada Facebook Ads bukan ini. Meskipun inilah yang terlihat di permukaan. Sehingga tidak salah jika ada yang menganalisa dan mempublikasikan hipotesa tentang ini. Namun hipotesa yang saja kaji disini, dari sudut pemikiran lain.

Jika botleneck adalah untuk hal yang bersifat out dan input. Sedangkan pada pembahsan fb ads, ada faktor lain yang tidak hanya in dan output. Dalam hal ini, pemasang iklan sebagai input, dan penikmat iklan/ kalayak/ masyarakat sebagai output dan pihak Facebook sebagai kran yang mengatur sederas apa input menuju output.

Gampangnya, pemasang iklan adalah sumur, sedangkan penikmat iklan adalah ember dan pihak Facebook adalah kran.

Pada posisi tertentu, yang terjadi beberapa masa lalu disaat Fb ads benar-benar powerful. Adalah kuantitas air yang sedikit, sehingga kran dibuka sangat lebar dan ember yang mampu menampung seluruh air yang mengucur. Dalam posisi ini, kran sama sekali tidak pelit dalam membuka dirinya, sehingga air sekecil apapun mampu tertampung dengan baik oleh ember dibawahnya.

Namun keadaan berbeda. Dimana air merasa sangat nikmat mengalir melewati kran dan tertampung sepenuhnya pada ember. Sehingga air semakin menambah kuantitasnya, air menjadi semakin kencar dan kran pun membuka diri sangat lebar, praktis ember pun semakin penuh. Dan untuk memenuhi ember, membutuhkan waktu yang lebih sedikit karena air meningkatkan kuantitasnya.

Keadaan ini semakin berlanjut. Sehingga membuat air yang lain menjadi iri dan ingin mendapat kenikmatan pula, kenikmatan sepenuhnya terkonsumsi oleh ember dan kran yang dibuka lebar.Bagi air ini tentu keadaan yang sangat menyenangkan.

Di satu titik, pun terjadi perubahan pula. Semakin banyak air yang ingin menuju ember. Sehingga kran menjadi penguasa atas peristiwa ini. Ember hanya diam, ada atau tidak ada air yang masuk bukan masalah. Sementara air sangat memerlukan menuju ember, sehingga kran adalah penakluk atas fungsi ini. Wajar, jika akhirnya kran sedikit menutup dirinya dan hanya membiarkan air yang punya kekuatan saja yang mampu melaluinya.

Di pasar, ini adalah keadaan yang wajar, dimana harga akan naik disaat permintaan semakin naik, sehingga laba yang diperoleh menjadi semakin besar. Dalam hitungan matematispun ini benar dan sekali lagi, ini wajar dalam skema pasar. 

Termasuk Facebook pun mengadopsi skema ini, dimana pemasang iklan semakin banyak, maka akan terjadi pelelangan, siapa yang memiliki kekuatan dana besar maka ia diprioritaskan dan menjadi lebih banyak kapasitas iklannya dikonsumsi oleh masyarakat.
Tapi facebook, melupakan satu hal. Bahwa penggunanya sudah mulai tidak seimbang dengan jumlah iklan yang tersebar.
Facebook Ads, Iklan Berbayar, Paid Promotion

Indikasinya. Iklan yang tayang, lebih banyak membutuhkan waktu untuk menjaring peminatnya. Sederhananya, dulu sebuah iklan perlu waktu 3 hari untuk mencapai jumlah jangkauan x. Sekarang untuk mencapai jumlah jangkauan x memerlukan waktu lebih dari 3 hari. Sementara kebutuhan waktu linier dengan jumlah dana yang dikeluarkan. Sehingga pemasang iklan perlu membelanjakan lebih banyak dana untuk mencapai jumlah targetnya.

Inilah ketidak seimbangan yang terjadi. Dimana iklan yang masuk, lebih banyak dari kapasitas penerimaan oleh pengguna facebook. Anggap saja perbandingan 1 iklan mampu dikonsumsi oleh 100 pengguna. Maka jika penggunanya 200 maka kuantitas iklannya adalah 2. Sementara pengguna iklan semakin bertambah maka baiknya pengguna umumpun juga bertambah. Namun angka ini tidak didapat saat ini. Banyak faktornya, salah satunya masyarakat sudah mencapai titik jenuh dan mulai bermunculan social media lain. Faktor lain yang tak kalah penting adalah, pengguna facebook yang baru, lebih banyak menginputkan data palsu. Padahal data yang diinputkan menjadi salah satu pilar untuk penyebaran iklan.


Di tulis oleh Budi (Dedy) Fajar 14 Oktober 2017, Malang – Indonesia

0 comments:

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html www.lowongankerjababysitter.com www.lowongankerjapembanturumahtangga.com www.lowonganperawatlansia.com www.lowonganperawatlansia.com www.yayasanperawatlansia.com www.penyalurpembanturumahtanggaku.com www.bajubatikmodernku.com www.bestdaytradingstrategyy.com www.paketpernikahanmurahjakarta.com www.paketweddingorganizerjakarta.com www.undanganpernikahanunikmurah.com

Posting Komentar