Kamis, 08 Februari 2018

Bisnis Guru Honorer Part 01 : Realita Masyarakat

Murid Membunuh Gurunya, Siswa Bunuh Guru, Permainan Murid Bunuh Guru, Guru Honorer, Guru Honorer Jadi Pns, Nasib Guru Honorer, Nasib Guru Honorer Swasta, Bisnis Untuk Guru, Bisnis Untuk Guru Honorer, Bisnis Gampang Untuk Guru

Bisnis Untuk Guru, Bisnis Untuk Guru Honorer, Bisnis Gampang Untuk Guru

Miris dimana melihat keadaan sosial yang seperti itu. Saat seorang siswa bertindak salah, dengan memukul gurunya. Terlepas dari sengaja atau tidak, tapi jika si anak bertindak seperti demikian, maka memang telah ada referensi di otaknya atas perbuatan demikian. Referensi tersebut entah ia dapat dari mana, tapi lingkungan terutama lingkungan keluarga, tetap memiliki peran terbesar dalam pembentukan karakterk anak.

Ditambah dengan realita fakta tentang kehidupan guru honorer yang jauh dari kata mapan dan hidup enak. Di video ini membahas bagaiman guru honorer mampu memiliki bisnis dengan cara sangat mudah, gampang, minimal bahkan tanpa modal dan minim resiko.

Zaman sekarang dimana arus informasi sangat cepat dan segala informasi mampu didapatkan dengan sangat mudah, memberikan berbagai dampak baik positif maupun negatif. Salah satu dampak negatifnya adalah degradasi mental, dimana norma-norma masyarakat bergeser dari normal yang sebelumnya ada dan dipatuhi, menjadi bentuk norma baru seiring waktu dan keadaan yang semakin berubah. Dalam tahap ini, norma masyarakat seakan mencari bentuk baru atas “kebenaran”. Norma yang lama menjadi pajangan, sedangkan norma yang baru belum terbentuk, praktis masyarakat menjadi labil, bimbang dan tidak berindentitas, karena berada dalam zona waktu peralihan norma.

Sehingga apa yang benar belum tentu menjadi “kebenaran” Dan bahkan kebenaran hanya bertolak pada popularitas. Dimana sebuah hal jika dilakukan oleh banyak orang, maka dianggap benar, dan yang minoritas selalu dinggap salah. Jika mencuri dilakukan oleh wakil rakyat secara terang-terangan, bersamaan dan banyak orang sekaligus, maka itu dianggap benar. Karena dianggap benar, maka tidak memberikan rasa malu. Karena sejatinya rasa malu muncul jika telah melakukan hal yang tidak benar.

Masa transisi, melahirkan pula genera-generasi dengan pemahaman identitas yang dangkal. Pemahaman sopan santun yang juga dangkal, peran agama yang sebagai label, serta strata sosial yang justru mampu menggantikan posisi agama yang seharusnya mempengarui dan menjadi literasi atas perilaku dalam kehidupan. Masa-masa seperti ini bukan melulu tanggung jawab orang tua, bukan pula dengan melimpahkan tanggung jawab ini pada guru disekolah, pada kyai di pondok. Namun menjadi tanggung jawab satu mata rantai utuh, saling terkoordinasi dan tersistem. Salah besar dan kesalahan teramat fatal jika orang tua hanya melimpahkan tanggung jawab atas anaknya pada guru disekolah. Tapi sadar atau tidak, orang tua yang merasa sibuk, atau sok sibuk menjadi tak peduli pada anaknya, seakan anak hanya cukup dikasih makan lalu diberikan ke guru dan selesai urusan, tapi kalau terjadi sesuatu pada anaknya, guru yang disalahkan. Situ sehat ?

Berlanjut ke part 2


Berikut ulasannya dalam bentuk video :

==========================
Di tulis oleh Budi (Dedy) Fajar,
Penulis,
Pengusaha,
Praktisi Internet & Digital Marketing,
Pendiri Komunitas Pemuda Pengusaha Indonesia,
Pendiri Komunitas Penulis Indonesia,
Owner Pegasus Grup
8 Februari 2018, Malang – Indonesia




0 comments:

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html www.lowongankerjababysitter.com www.lowongankerjapembanturumahtangga.com www.lowonganperawatlansia.com www.lowonganperawatlansia.com www.yayasanperawatlansia.com www.penyalurpembanturumahtanggaku.com www.bajubatikmodernku.com www.bestdaytradingstrategyy.com www.paketpernikahanmurahjakarta.com www.paketweddingorganizerjakarta.com www.undanganpernikahanunikmurah.com

Posting Komentar